Jumat, 29 Agustus 2014

News / Regional

Jembatan Plat Baja Itu Dilem Khusus

Senin, 23 November 2009 | 16:32 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Jembatan Baleendah yang melintasi Sungai Citarum di jalur Bandung-Bojongsoang-Baleendah, Kabupaten Bandung, menjadi jembatan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ortotropik dengan lantai rangka plat baja.

"Ini jembatan pertama dengan teknologi ortotropik. Perbaikan jembatan dengan sistem ini memungkinkan kendaraan tetap bisa melintas tanpa harus membuatkan jembatan darurat," kata penanggung jawab proyek uji coba skala penuh plat baja ortotropik jembatan Baleendah, A Sihombing, Senin (23/11) di Bandung.

Teknologi pembuatan atau penggantian lantai jembatan dengan sistem ortotropik itu dikembangkan Puslitbang Jalan dan Jembatan Satker Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan Departemen Pekerjaan Umum.

Menurut Sihombing, jembatan dengan teknologi lantai ortotropik secara teknis lebih ringan sekitar 20 persen dibandingkan jembatan berlantai beton.

"Dengan teknologi ini, beban jembatan menjadi berkurang. Namun, yang terpenting, sistem ini memungkinkan perbaikan jembatan tidak memutus total arus lalu lintas. Kendaraan tetap bisa melintas meski hanya satu jalur," kata Sihombing.

Selain bisa mengurangi beban jembatan, teknologi lantai jembatan dengan plat rangka baja itu juga lebih efisien dalam hal pembiayaan dan waktu pengerjaan.

Lantai baja sistem ortotropik terdiri dari panel-panel baja dengan lebar dua meter dan panjang sekitar lima meter. Kemudian, plat-plat baja itu disambung-sambungkan di atas bantalan jembatan dengan cara dibaut.

Untuk merekatkan aspal, plat baja itu dilapisi dengan lem khusus untuk menyiapkan permukaan baja sehingga memungkinkan rekat dengan aspal beton.

"Pengerjaan atau perbaikan dengan sistem ortotropik dilakukan satu lajur-satu lajur sehingga jalur sebelahnya tetap bisa dilintasi. Untuk perbaikan, panel lantai baja itu bisa diambil sebagian, jadi tak dibongkar semuanya," kata dia.

Sementara itu, kekuatan jembatan itu sama dengan jembatan beton biasanya. Dengan plat baja, jembatan itu lebih kuat meski dari sisi beban lebih ringan dibandingkan yang berlantai beton.

"Plat bajanya dipesan khusus dari PT Krakatau Steel sehingga dikirim kemarin dalam bentuk plat-plat yang siap dipasang," katanya.

Meski baru pertama kali diterapkan, model jembatan ortotropik itu cocok untuk melakukan perbaikan jembatan-jembatan di jalur yang cukup padat karena tidak mengganggu arus lalu lintas secara total.

"Biasanya perbaikan jembatan itu selalu dibuatkan jembatan alternatif seperti jembatan ponton. Namun, dengan teknologi ini tak perlu lagi karena kendaraan masih bisa melintas," katanya.


Editor : bnj
Sumber: