Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Investasi Ikan Tuna Indonesia Terbuka Luas

Selasa, 11 Agustus 2009 | 21:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Peluang investasi di industri ikan tuna terbuka lebar, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, Papua, dan Sulawesi Utara yang kaya akan sumber daya ikan tuna.

Demikian yang mengemuka dari seminar "Business and Investment Opportunities on Tuna in Papua, North Sulawesi, and West Sumatera Province" di Hotel Peninsula, Jakarta, Selasa (11/8).

Ikan tuna merupakan salah satu komoditas yang berkembang di Indonesia ataupun di dunia. Pada tahun 2008, jika dilihat dari nilai ekspornya, tuna menempati urutan kedua setelah udang. Secara nasional, total produksi tuna untuk ekspor sampai Oktober 2008 mencapai 130.056 ton dengan nilai sebesar 347,189 juta dollar AS.

"Tuna merupakan salah satu dari komoditas perikanan yang paling banyak diperjualbelikan di dunia," ujar  Ketua Komisi Tuna Indonesia Purwito Martosubroto.

Peluang investasi di bidang ini masih cukup besar. Seperti yang terjadi di Sumatera Barat dan Papua. Di Sumatera Barat, dari seluruh potensi yang ada, baru 42,6 persen yang telah dieksplorasi.

Untuk mendorong masuknya investasi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melakukan beberapa langkah seperti membangun infrastruktur transportasi dengan baik, pembuatan surat izin yang cepat asal sudah memenuhi persyaratan, hingga tidak ada pungutan biaya apa pun. "Di Sumatera Barat, untuk industri perikanan tidak ada pungutan-pungutan. Nol," ujar Kepala Dinas Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Yosmeri.

"Kami juga memiliki bandara internasional yang hanya berjarak 30 km dari pelabuhan. Siap untuk mengantarkan ikan ke negara tujuan," ujarnya lagi.

Untuk modalnya, satu kapal tipe longline, penangkap tuna yang paling efektif, harganya sekitar Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Sedangkan untuk processing plan dengan Rp 30 miliar sudah mendapatkan yang lengkap dengan mutu baik.

Di Provinsi Papua malah belum ada perusahaan nasional yang menyentuh industri ikan tuna ini. Biasanya alasan yang diberikan adalah mahalnya biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun usaha di Papua.

"Padahal jika melihat jauh ke depan, investasi di Papua akan menguntungkan karena potensi ikannya jauh lebih besar dibandingkan tempat lainnya," Ujar Sihar Simatupang, Kabid Usaha Perikanan Papua.

Di Papua, potensi daerah untuk industri ikan tuna terletak di tiga daerah, yaitu Supiori, Biak Numfor, dan Jayapura. Ke depannya, untuk semakin memajukan industri ini, akan dibangun pelabuhan perikanan samudera di Biak. Saat ini sudah berada dalam tahap pembebasan tanah. Untuk transportasi udara, Papua telah memiliki bandara internasional di daerah Biak dan bandara nasional di daerah Jayapura.

Masalah biaya, di Papua, untuk mendapatkan Surat Izin Usaha Penangkapan harus membayar sebesar Rp 100.000,00 dan Surat Izin Penangkapan Ikan sebesar Rp 60.000,00 per GT. "Untuk masalah investasi di Papua mungkin besarnya dua kali lipat dari tempat lain. Tapi potensinya juga dua kali lebih besar dibanding tempat lain," ujar Sihar.

"Supaya peningkatan industri ini berhasil pemerintah harus membuat prosedur yang jelas, cepat, transparan, dan infrastruktur juga harus baik," jelas Purwito.

Sasaran ekspor tuna yang terbesar adalah Jepang, biasanya yang diekspor ke Jepang adalah tuna yang masih segar untuk dibuat sashimi atau sushi. Kedua terbesar adalah Amerika Serikat, tetapi sudah dalam bentuk kalengan. Di Indonesia sendiri, pasar untuk tuna hanya ada di kota-kota besar, khususnya di Jawa atau kota yang memiliki banyak restoran Jepang.


Editor :