BLORA, KOMPAS.com – Di sebuah rumah di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tinggal seorang penulis yang masih aktif berkarya meski usianya telah melampaui 80 tahun.
Penulis tersebut adalah Soesilo Toer, yang pada 17 Februari mendatang akan genap berusia 89 tahun.
Mbah Soes, demikian ia akrab disapa, merupakan adik kandung sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer.
Baca juga: Di Jerman, Karya Pramoedya Ananta Toer Terus Relevan dengan Masa Kini
Di usia senja, Mbah Soes masih menyimpan tekad untuk merampungkan karya bukunya yang ke-100.
Hingga kini, ia mengaku telah menulis hampir seratus judul buku, bahkan jumlah tersebut telah melampaui karya kakaknya, Pramoedya Ananta Toer.
"Sekarang hampir 100. Kalau Pram kan kurang dari 50 (karya). Kalau jadi nulis buku lebih dari 100 judulnya ini lho Kerpeke sang lelananging jagad, sama ini 'sang provokator'," ucap dia saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/2/2026).
Penulis novel Suka Duka Si Pandir itu juga masih mengikuti berbagai peristiwa terkini.
Ia mengingat batalnya penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer pada 2025 lalu, tepat saat peringatan satu abad kelahiran Pram.
Batalnya penamaan jalan tersebut terjadi setelah adanya penolakan dari organisasi masyarakat Pemuda Pancasila.
Beberapa bulan kemudian, ketua Pemuda Pancasila Blora diketahui terlibat kasus tindak pidana.
Meski demikian, Mbah Soes mengaku tak lagi mempersoalkan jadi atau tidaknya penamaan jalan tersebut.
Ia justru mengenang perubahan nama jalan tempat tinggalnya yang telah berganti berkali-kali.
"Dulu namanya Jalan Pet, terus Jalan Pasar Pari, Jalan Pasar Pon, Jalan Jagalan, Jalan Pemotongan, Jalan Ambon, Jalan Sumbawa, Jalan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa terbanyak di dunia," kata dia dengan intonasi bersemangat.
Dalam kesempatan tersebut, Mbah Soes juga mengaku baru saja menerbitkan beberapa buku, salah satunya berjudul Pemulung.
Meski menulis tentang pemulung, ia menyebut sudah tidak lagi menjalani aktivitas tersebut.