Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

LDA Sebut Gugatan Ganti Nama Purboyo Jadi PB XIV untuk Hindari Penyalahgunaan Gelar dan Jabatan

Kompas.com, 5 Februari 2026, 21:20 WIB
Labib Zamani,
Krisiandi

Tim Redaksi

SOLO, KOMPAS.com - Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan gugatan penggantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono Empat Belas (XIV) untuk menghindari penyalahgunaan gelar dan jabatan.

Eddy mengaku memiliki bukti dugaan penyalahgunaan terkait penggunaan gelar dan jabatan tersebut.

"Sempat juga saya katakan bahwa nama itu akan cenderung disalahgunakan. Dan saya sudah pegang satu bukti penyalahgunaan nama itu yang kemudian dikaitkan gelar dan jabatan," kata Eddy di Solo, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: LDA Tiga Kali Kirim Surat ke Dukcapil Solo Minta Penghentian Ganti Nama Purboyo Jadi Pakubuwono XIV

"Makanya diperlukan gugatan supaya untuk menghindari untuk mengakhiri penyalahgunaan gelar dan jabatan itu. Nanti kita ikuti saja prosesnya di pengadilan sambil juga dipikirkan upaya hukum lain," tambah dia.

Dia menambahkan gugatan penggantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV dilayangkan secara personal oleh GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng.

Gusti Moeng merupakan putri mendiang PB XII sekaligus adik PB XIII.

"Kalau kali ini (gugatan) Gusti Wandan (Koes Moertiyah) secara personal. Jadi tidak membawa jabatan ataupun institusinya. Karena itu setiap orang, siapapun berhubungan dengan keraton kira-kira terganggu dengan potensi penggunaan nama itu bisa mengajukan keberatan," katanya.

Menurut Eddy pergantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV tidak berkaitan dengan gelar maupun jabatan.

"Seperti keterangan saya yang terdahulu ya, sebenarnya antara perlu tidak perlu gugatan ini. Kenapa tidak perlunya, sebenarnya itu hanya pergantian nama biasa. Jelas di dalam putusan itu hanya pergantian nama. Itu konsekuensi administratif belaka," katanya.

Sidang perdana

Sidang perdana gugatan atas penggantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV (PB XIV) di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (5/2/2026)KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati Sidang perdana gugatan atas penggantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV (PB XIV) di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (5/2/2026)
Sebelumnya, sidang perdana gugatan atas penggantian nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwono XIV (PB XIV) digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (5/2/2026), sekitar pukul 12.00 WIB, setelah mundur dua jam dari jadwal.

Gugatan tersebut terdaftar pada Rabu (26/1/2026) dengan nomor perkara 31/Pdt.G/2026/PN Skt.

Penggugat adalah GRAy Koes Moertiyah, sementara tergugat yakni Suryo Aryo Mustiko atau KGPH Purboyo.

GRAy Koes Moertiyah merupakan putri mendiang Pakubuwono XII (PB XII) sekaligus adik Pakubuwono XIII, yang akrab disapa Gusti Moeng.

Dia saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta.

Dalam sidang, dipimpin oleh Majelis Hakim, Cut Carnelia, Halomoan Sianturi, dan Bakri.

Halaman:


Terkini Lainnya
Ketika Naga Merah Putih Menari di Tengah Hiasan Ketupat, Pontianak Merawat Keberagaman
Ketika Naga Merah Putih Menari di Tengah Hiasan Ketupat, Pontianak Merawat Keberagaman
Regional
Kronologi Penemuan Gajah Tewas Tanpa Kepala di Pelalawan Riau, Berawal dari Bau Busuk
Kronologi Penemuan Gajah Tewas Tanpa Kepala di Pelalawan Riau, Berawal dari Bau Busuk
Regional
Gentengisasi Prabowo, Koperasi Merah Putih di Kalteng Dimungkinkan Jadi Produsen Genteng
Gentengisasi Prabowo, Koperasi Merah Putih di Kalteng Dimungkinkan Jadi Produsen Genteng
Regional
4 Istri Korban Penipuan 'Scammer' Kamboja Melapor ke Polda Bengkulu
4 Istri Korban Penipuan "Scammer" Kamboja Melapor ke Polda Bengkulu
Regional
Rumah Diduga Jadi Tempat Transaksi Narkoba, Pasutri Dibekuk Polresta Mataram
Rumah Diduga Jadi Tempat Transaksi Narkoba, Pasutri Dibekuk Polresta Mataram
Regional
Prabowo Perintahkan Korve, Ribuan Personel Polda Sulut Turun ke Kawasan Pesisir Pantai Manado
Prabowo Perintahkan Korve, Ribuan Personel Polda Sulut Turun ke Kawasan Pesisir Pantai Manado
Regional
Fenomena Perbatasan RI – Malaysia, Warga Keluarkan Biaya Mahal ke Kota Nunukan Sebelum Diizinkan Masuk Malaysia
Fenomena Perbatasan RI – Malaysia, Warga Keluarkan Biaya Mahal ke Kota Nunukan Sebelum Diizinkan Masuk Malaysia
Regional
Kericuhan Suporter Liga 4 di Purworejo, Disporapar: Olahraga Seharusnya Menjadi Ruang Silaturahmi
Kericuhan Suporter Liga 4 di Purworejo, Disporapar: Olahraga Seharusnya Menjadi Ruang Silaturahmi
Regional
Gempa Magnitudo 6,5 Pacitan Terasa Hingga Purworejo, Warga: Saya Lagi Tidur, Rumahnya Terasa Goyang
Gempa Magnitudo 6,5 Pacitan Terasa Hingga Purworejo, Warga: Saya Lagi Tidur, Rumahnya Terasa Goyang
Regional
Walkot Kupang NTT Ungkap Cara Tangani Konflik Pembangunan Rumah Ibadah
Walkot Kupang NTT Ungkap Cara Tangani Konflik Pembangunan Rumah Ibadah
Regional
Gajah Ditemukan Tewas Tanpa Kepala di Areal Konsesi Perusahaan di Pelalawan Riau
Gajah Ditemukan Tewas Tanpa Kepala di Areal Konsesi Perusahaan di Pelalawan Riau
Regional
Mengunjungi Mbah Soesilo Toer: Cerita Tentang Dunia Samin, Pemulung, Rusia hingga Habibie
Mengunjungi Mbah Soesilo Toer: Cerita Tentang Dunia Samin, Pemulung, Rusia hingga Habibie
Regional
Modus Penipuan e-Tilang Marak, Polisi Purworejo Beri Peringatan
Modus Penipuan e-Tilang Marak, Polisi Purworejo Beri Peringatan
Regional
Zulhas: Harga Cabai dan Ayam di Sulsel Lebih Murah daripada Jawa
Zulhas: Harga Cabai dan Ayam di Sulsel Lebih Murah daripada Jawa
Regional
Jembatan Gantung Garuda Mulai Dibangun di Desa Plipir, Akses Warga yang Selama Ini Berisiko Segera Berubah
Jembatan Gantung Garuda Mulai Dibangun di Desa Plipir, Akses Warga yang Selama Ini Berisiko Segera Berubah
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
LDA Sebut Gugatan Ganti Nama Purboyo Jadi PB XIV untuk Hindari Penyalahgunaan Gelar dan Jabatan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat