Kisah Pertobatan WNI Eks Jihadis di Suriah, Wildan: Kami Ditaruh di Front Pertempuran (2)

Kompas.com - 05/05/2021, 05:55 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Tiga orang warga Indonesia eks napi teroris, yang pernah menjadi petempur kelompok militan ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan berusaha menebusnya dengan menyebarkan narasi anti-ekstremisme di masyarakat.

Inilah kisah tiga pria asal Surabaya, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, yang terpapar gerakan ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, dengan berangkat ke medan perang di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Mereka terpikat menjadi 'jihadis radikal' melalui propaganda di internet, persinggungan dengan seorang perekrut ISIS, serta proses panjang dan perlahan yang membuat mereka makin terdorong ke dalam ekstremisme.

Baca juga: KKB Dilabeli Teroris, Kapolda Papua: Kami Tetap Kedepankan Pendekatan Kesejahteraan

Ujungnya, atas nama persaudaraan dan, tentu saja, petualangan adrenalin, Abu Farros (nama sebutan), Wildan Bahriza, dan Syahrul Munif, meninggalkan ayah, ibu, anak dan keluarganya.

Dihadapkan kekejaman perang di Suriah, kekejian ISIS, dan perangai negatif sang perekrut, kesadaran intelektual dan ruhani, juga situasi di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan meninggalkan Suriah.

Apa yang terjadi setelah mereka diadili dan mendekam di penjara?

Di titik mana dalam kehidupan para eks jihadis ini sehingga mereka akhirnya berhasil keluar dari ideologi kebencian?

Bagaimana mereka beradaptasi di masyarakat ketika dihadapkan adanya stigma tentang latar belakang mereka sebagai mantan napi teroris?

Berikut kesaksian tiga orang itu dalam wawancara terpisah di Surabaya dan Malang.

Baca juga: Kisah Pertobatan WNI Eks Jihadis di Suriah, Abu Faros: Saya Tak Bisa Tidur Selama 2 Bulan (1)

Baca juga: Kisah Pertobatan WNI Eks Jihadis di Suriah, Syahrul: Orang Tua Terpukul Saat Tahu Saya Bohong (3)

Wildan: saya insaf...

Wildan Bahriza berpose di depan kamera dari balik terali besi ? saat masih dipenjara. Dokumen Wildan Bahriza Wildan Bahriza berpose di depan kamera dari balik terali besi ? saat masih dipenjara.
(Wildan bin Fauzi Bahriza, ikut bertempur bersama ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan kini mengampanyekan perdamaian)

Wildan Fauzi Bahriza masih berusia 22 tahun ketika bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah pada Juni 2013 lalu.

Dia merupakan salah-satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat 'berjihad' ke negara itu.

"[Di usia muda] Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana mengutamakan adrenalin daripada berpikir jernih," katanya kepada BBC News Indonesia, pertengahan April lalu. Kami menemuinya di pondokannya di pinggiran Kota Malang.

Baca juga: Kalapas Gunung Sindur: Napi Teroris Awalnya Hormat Bendera Saja Tidak Mau

Hal itu dia utarakan ketika BBC Indonesia bertanya apakah saat itu dia tidak menyadari kompleksitas di balik perang saudara di Suriah.

"Semangat itu meluap-luap, apapun akan aku lakukan untuk mencapai target itu," tambah sarjana strata satu bidang informatika di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jatim ini.

Pria kelahiran Pasuruan, 17 Juni 1991 ini nekad berangkat ke Suriah setelah bertemu anggota ISIS asal Pasuruan dan tinggal di Malang, Abu Jandal.

Sepekan kemudian dia berangkat ke negara yang saat itu dilanda perang saudara. "Sesederhana itu malah."

Baca juga: 34 dari 56 Napi Teroris Berikrar Setia kepada NKRI, Kemenkumham: Yang 22 Terus Kita Bina

Wildan Bahriza (tengah) ? saat berada di dalam penjara ? bersama dua orang petugas lembaga pemasyarakatan.Dokumen Wildan Bahriza Wildan Bahriza (tengah) ? saat berada di dalam penjara ? bersama dua orang petugas lembaga pemasyarakatan.
Selain dorongan adrenalin, anak kelima dari enam bersaudara asal kota kecil Bangil, Jatim, ini mengaku semenjak kecil gampang tersentuh ketika bersentuhan dengan isu kemanusiaan.

Dalam situasi seperti itu, Wildan mendapat informasi — yang sangat mungkin tidak utuh alias sepihak — seputar konflik Ambon, perang Afghanistan, Irak, hingga Suriah.

Dan mirip yang dialami eks napi teroris lainnya, yaitu Abu Farros, Wildan mengaku 'terpanggil' untuk berangkat ke Suriah atas nama persaudaraan sesama muslim.

"Rentetan peristiwa itu yang membuat aku ingin membantu mereka [di Suriah], setidaknya aku ingin berguna," katanya.

Baca juga: Kisah Nana Napi Teroris Bom Panci, Didoktrin Paham Radikal oleh Suami, Kini Memilih Kembali ke NKRI

Dari mana Anda mengetahui kondisi di Suriah, saat itu? Tanya BBC Indonesia. Wildan tidak memungkiri dia mendapatkannya dari media sosial.

"Aku melihat video-video anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya."

Setelah tiba di Suriah pada September 2013, Wildan dan sekitar sembilan orang WNI — di antaranya Abu Jandal, yang merekrutnya — dikirim ke kamp militer, dua pekan kemudian. Mereka dipersenjatai.

"Dan kami ditaruh di front-front pertempuran," akunya. Jadi Anda ikut bertempur? Tanya BBC Indonesia. "Iya."

Ketika itu Wildan mengaku nyaris dimasukkan dalam rombongan 'bom syahid' alias bom bunuh diri. Dia mengaku sudah dikarantina, namun akhirnya batal.

 Baca juga: Penjual Airgun ke Penyerang Mabes Polri adalah Eks Napi Teroris di Aceh

Wildan Bahriza (tengah, berkacamata) bersama petugas lembaga pemasyarakatan dan anggota polisi.Dokumen Wildan Bahriza Wildan Bahriza (tengah, berkacamata) bersama petugas lembaga pemasyarakatan dan anggota polisi.
Belakangan dia mengaku dipindahkan ke rumah sakit untuk menjadi petugas evakuasi.

"Ini sesuai keinginanku [menjadi petugas medis]," akunya.

Selama bertugas di rumah sakit, Wildan mengaku menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.

"Sampai sekarang, saya kesulitan tidur, saya selalu terbayang-bayang apa yang saya saksikan," Wildan menerawang, lalu menarik napas panjang. Matanya terlihat basah.

Dihadapkan situasi yang tidak terbayangkan itu, pada awal 2014, Wildan memutuskan kembali ke Indonesia dengan sikap ekstrim yang belum sepenuhnya berubah.

Baca juga: Sosok MK, Penjual Airgun ke Penyerang Mabes Polri, Mantan Napi Teroris yang Serahkan Diri ke Polisi

Dua tahun kemudian dia ditangkap Tim Densus 88, setelah sempat menikahi perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, setahun sebelumnya.

Dia divonis bersalah karena terlibat organisasi teroris ISIS dan dihukum lima tahun penjara.

Di dalam penjara, Wildan semula menolak melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, karena dia mengaku "diancam keselamatannya oleh beberapa napi teroris ISIS".

Namun dia kemudian mengalami titik balik — melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi — setelah mengetahui para pengancamnya itu disebutnya "akhlak dan sikapnya bertentangan jauh dengan apa yang diucapkannya."

Baca juga: Seorang Napi Teroris Bebas dari Lapas Porong, Pernah Suplai Bahan Peledak ke Poso

Wildan saat ini bekerja sebagai tenaga kontrak fotografer dan videografer di Dinas Koperasi dan Perdagangan di Kota Malang.Dokumen Wildan Bahriza Wildan saat ini bekerja sebagai tenaga kontrak fotografer dan videografer di Dinas Koperasi dan Perdagangan di Kota Malang.
Akhirnya dia mendapatkan remisi dan hukumannya diubah menjadi tiga tahun sembilan bulan. Dia dibebaskan pada 2 Oktober 2019.

Dalam wawancara, Wildan menyebut peran orang tuanya yang "sangat luar biasa" saat dirinya berada di titik nol dalam kehidupannya — mendekam di balik terali besi.

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah.

Ketika diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya keluar dari jeratan gerakan ekstrim di berbagai acara diskusi, Wildan selalu menyisipkan pentingnya memelihara kedekatan dengan orang tua.

Baca juga: Seorang Napi Teroris Bebas dari Lapas Porong, Pernah Suplai Bahan Peledak ke Poso

Hal penting lainnya yang sering dia utarakan adalah menyadari pentingnya perdamaian. "Jadi selagi diberi nikmat perdamaian, kenapa kita harus berperang."

Wildan juga mengoreksi konsep 'jihad' yang dulu disebutnya identik dengan perang. Dia memahami jihad itu "banyak pintunya", di antaranya membantu fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar.

"Apalagi di negara kita banyak fakir miskin," ungkapnya. Kini Wildan aktif membantu memasarkan produk makanan sebuah yayasan yatim piatu di Malang.

Baca juga: Berulang Tahun, Ganjar Dapat Kado Spesial dari Eks Napi Teroris, Isinya...

Zakia Abdullah, warga Distrik Tariq Al-Bab, Aleppo, duduk termenung di lokasi reruntuhan gedung yang hancur akibat perang, 23 Februari 2013.Pablo Tosco/AFP Zakia Abdullah, warga Distrik Tariq Al-Bab, Aleppo, duduk termenung di lokasi reruntuhan gedung yang hancur akibat perang, 23 Februari 2013.
Kritikan juga dia sampaikan kepada aliran-aliran di dalam kelompok Islam tertentu yang disebutnya "terlalu ekstrim".

"Misalnya suka mengkafirkan sesama muslim. Saya pun dikafirkan juga."

"Mungkin itu yang memicu radikalisme yang begitu kuat karena kesalahan pemikiran seperti itu," kata Wildan.

"Padahal Islam itu agama yang rahmat, dan tidak ada yang mengekstrimkan seperti itu."

Dia berharap nantinya dapat memiliki yayasan sendiri untuk membantu para yatim piatu yang terlantar.

Baca juga: Subur Sugianto, Napi Teroris Kasus Bom Bali II Meninggal Dunia

"Karena semakin banyak berinteraksi dengan anak-anak itu membuat saya semakin merasa tenang," ujarnya.

Saat ini Wildan memulai menekuni aktivitas baru sebagai fotografer dan videografer di Kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Malang.

"Yang lalu biarlah berlalu, case closed, aku sekarang membangun kehidupan yang baru."

Baca juga: Kisah Pertobatan WNI Eks Jihadis di Suriah, Syahrul: Orang Tua Terpukul Saat Tahu Saya Bohong (3)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pulau Sumba dan Sabu Raijua

BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pulau Sumba dan Sabu Raijua

Regional
Honorer Berpotensi Jadi PPPK, Pemkab Aceh Utara Surati Semua Dinas

Honorer Berpotensi Jadi PPPK, Pemkab Aceh Utara Surati Semua Dinas

Regional
8 Rumah di Lebong Bengkulu Terbakar, 2 Rumah Hangus Total

8 Rumah di Lebong Bengkulu Terbakar, 2 Rumah Hangus Total

Regional
Izin Pijat Tradisional Padepokan Samsudin Dicabut, Wabup Blitar: Nggak Boleh Santri di Sana

Izin Pijat Tradisional Padepokan Samsudin Dicabut, Wabup Blitar: Nggak Boleh Santri di Sana

Regional
Waspada Bencana, Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Banyumas hingga Akhir Pekan Ini

Waspada Bencana, Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Banyumas hingga Akhir Pekan Ini

Regional
3 PNS Tersangka Korupsi Baitul Mal Aceh Utara Belum Diberhentikan, Ini Alasannya

3 PNS Tersangka Korupsi Baitul Mal Aceh Utara Belum Diberhentikan, Ini Alasannya

Regional
Kerangka Manusia Bertato di Kendal Diperkirakan Sudah 1 Bulan Meninggal, Polisi Sebut Ada Bekas Tusukan

Kerangka Manusia Bertato di Kendal Diperkirakan Sudah 1 Bulan Meninggal, Polisi Sebut Ada Bekas Tusukan

Regional
Stok Vaksin Pfizer dan Moderna di Palembang Menipis, Dinkes Ajukan 2.680 Vial untuk Dosis Keempat Nakes

Stok Vaksin Pfizer dan Moderna di Palembang Menipis, Dinkes Ajukan 2.680 Vial untuk Dosis Keempat Nakes

Regional
Pasang Umbul-umbul di Depan Kantor, Perangkat Desa di NTT Tewas Tersengat Listrik

Pasang Umbul-umbul di Depan Kantor, Perangkat Desa di NTT Tewas Tersengat Listrik

Regional
4 Tahun Tak Lapor SPT dan Buat Negara Merugi Rp 6 Miliar, Rumah Warga Kepri Disita

4 Tahun Tak Lapor SPT dan Buat Negara Merugi Rp 6 Miliar, Rumah Warga Kepri Disita

Regional
'Geng ARMI 059', Pelaku Pembacokan di Semarang Ditangkap, Ternyata Masih di Bawah Umur

"Geng ARMI 059", Pelaku Pembacokan di Semarang Ditangkap, Ternyata Masih di Bawah Umur

Regional
Dampak Wacana Kenaikan Tiket TN Komodo, Kunjungan Wisatawan ke Labuan Bajo Disebut Menurun

Dampak Wacana Kenaikan Tiket TN Komodo, Kunjungan Wisatawan ke Labuan Bajo Disebut Menurun

Regional
IRT di Bima Ditemukan Tewas Gantung Diri, Suami Diantar Kades ke Kantor Polisi

IRT di Bima Ditemukan Tewas Gantung Diri, Suami Diantar Kades ke Kantor Polisi

Regional
Mayat Penuh Luka Ditemukan di Purworejo, Terungkap Pelaku Sakit Hati Ditagih Utang

Mayat Penuh Luka Ditemukan di Purworejo, Terungkap Pelaku Sakit Hati Ditagih Utang

Regional
Vaksin PMK di Lhokseumawe Kosong, Stok Obat untuk Ternak Menipis

Vaksin PMK di Lhokseumawe Kosong, Stok Obat untuk Ternak Menipis

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.