Singapura Desak Indonesia Buka Data Perkebunan Penyebab Asap

Kompas.com - 18/06/2013, 18:07 WIB
EditorErvan Hardoko

SINGAPURA, KOMPAS.com — Polusi udara terburuk Singapura dalam 16 tahun terakhir memicu ketegangan diplomatik dengan Indonesia.

Pada Selasa (18/6/2013), negeri kota itu mendesak Indonesia menyediakan data nama-nama perusahaan dan peta konsesi untuk mengetahui perkebunan yang menyebabkan kabut asap ini.

Kementerian Lingkungan Hidup Singapura telah menghubungi Menteri Lingkungan Hidup Indonesia lewat telepon saat tingkat polusi di negeri itu sudah mencapai level berbahaya selama dua hari terakhir.

"Kami harus melakukan tekanan komersial terhadap perusahaan yang menyebabkan ini (kabut asap)," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura Vivian Balakrishnan lewat akun Facebook-nya.

"Kami juga menunggu Indonesia memublikasikan peta konsesi. Kombinasi foto satelit dan peta konsesi memungkinkan kami menunjuk perusahaan-perusahaan penyebab bencana ini," lanjut Vivian.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Indonesia tak bisa dihubungi. Namun, pejabat senior kementerian, Sony Partono mengatakan, pihak asing seharusnya tak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

"Hal terpenting adalah kami berupaya mengendalikan kerusakan yang diakibatkan kebakaran hutan," kata Partono.

Indeks Standar Polusi (PSI) Singapura meningkat hingga 155 pada Senin (17/6/2013), memicu Kedutaan Besar AS meminta warga AS yang berkunjung ke Singapura segera berkonsultasi ke dokter terkait dampak kabut asap ini.

Pembakaran ilegal untuk membersihkan lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit adalah masalah yang belum teratasi di Indonesia.

Meski demikian, Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang belum meratifikasi pakta pencegahan polusi asap 2002. Padahal tanpa Indonesia maka upaya mencegah polusi asap ini tak bisa dilaksanakan dengan efektif.

Indonesia, kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, secara besar-besaran membuka perkebunan kelapa sawit dalam satu dekade terakhir.

Kini Indonesia sudah mengambil alih posisi Malaysia sebagai pemasok minyak kelapa sawit terbesar dunia. Namun, untuk mengembangkan kebun kelapa sawit, Indonesia harus membersihkan hutan dan lahan gambut.

 

Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

    Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

    Regional
    447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

    447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

    Regional
    Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

    Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

    Regional
    Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

    Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

    Regional
    Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

    Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

    Regional
    UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

    UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

    Regional
    Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

    Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

    Regional
    Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

    Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

    Regional
    Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

    Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

    Regional
    Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

    Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

    Regional
    Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

    Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

    Regional
    16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

    16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

    Regional
    DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

    DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

    Regional
    Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

    Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

    Regional
    BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

    BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X