Kompas.com - 15/06/2013, 14:27 WIB
|
EditorCaroline Damanik

SEMARANG, KOMPAS.com - Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Dwi Priyatno meminta maaf atas tindakan oknum anggota polisi yang menembak Luki Nugroho (25). Ia mengatakan bahwa dirinya juga sudah bertemu dengan orangtua korban.

"Saya selaku Kapolda Jateng mohon maaf, dan saya juga sudah bertemu dengan ibunya,"ujarnya saat ditemui di ruang IGD RSUP dr Kariadi Semarang, Sabtu (15/6/2013).

Dwi mengaku bertanggung jawab atas peristiwa ini. Saat ini pelaku, yakni Brigadir Satu Priyo Yustianto, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditangani oleh Provos Polrestabes Semarang.

"(Pelaku) juga akan diserahkan ke tim reserse, pasti akan ditindak sesuai prosedur hukum, alat bukti sudah diamankan dan saksi-saksi juga sudah diperiksa," tambahnya didampingi Polrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan.

Seperti diketahui, Luki Nugroho yang bekerja sebagai satpam di PT Tunas Arta Graha, perusahaan jasa pengisian uang ATM, tewas ditembak Briptu Priyo yang juga bertugas melakukan pengawalan di perusahaan tersebut. Polisi itu dinyatakan lalai dalam menggunakan senjata api.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 03.00 WIB di ruang istirahat perusahaan tersebut. Ketika itu korban ditembak dengan senjata revolver yang dibawa pelaku. Korban mengalami luka parah di bagian kepala samping kanan tembus ke kiri. Dalam kondisi kritis, korban sempat dilarikan ke RSUP dr Kariadi Semarang sebelum akhirnya tewas.

"Itu akibat kelalaian, harusnya saat itu pelaku pulang karena tugasnya selesai pukul 10 malam, tapi ternyata tidak kembali ke kesatuannya karena rumahnya di Grobogan dan paginya juga harus bertugas lagi, kemudian terjadilah penembakan itu," katanya.

Dwi menyatakan, peristiwa itu terjadi akibat kelalaian penggunaan senjata api. Meski begitu pihaknya tetap akan melakukan tes psikologis terkait kondisi pelaku. Selain itu, polisi juga akan melakukan tes urine. Pasalnya, pelaku diketahui dalam kondisi mabuk akibat minuman keras saat terjadi penembakan.

Menurut Dwi, peristiwa ini juga dijadikan sebagai bahan instropeksi pihak kepolisian agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

"Untuk selanjutnya agar lebih baik dalam penggunaan senjata, supaya tidak terjadi lagi. Ini sebagai bahan intropeksi,"tandasnya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.