Cegat Truk Pasir, Siswa SMP Terseret Puluhan Meter

Kompas.com - 13/06/2013, 03:16 WIB
Editor

Irwansyah (30) sedang mengatur arus lalu lintas di depan pabrik tempatnya bekerja di Jalan Raya Bogor-Jakarta Kilometer 47, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (12/6) siang. Saat itu, ia melihat belasan siswa sekolah menengah pertama berusaha menghadang sebuah truk pengangkut pasir.

Ia sempat menegur siswa itu, tetapi mereka tidak mengindahkannya. Beberapa siswa nekat menghadang hingga ke tengah jalan. Namun, sopir truk tak berhenti dan tetap melaju dengan kecepatan 40-50 kilometer per jam. Seorang siswa, yang tak sempat menghindar, tertabrak sisi kanan truk. Ia lalu terseret di ban kanan truk puluhan meter.

”Sopir sepertinya enggak tahu ada orang. Saya lari-lari sambil teriak menyuruh truk berhenti,” tutur Irwansyah yang sehari-hari bekerja sebagai petugas satuan pengamanan itu.

Teman-teman korban yang belakangan diketahui bernama Agil (13), siswa kelas I SMP Putra Pakuan, Cibinong, langsung berhamburan kabur begitu mengetahui temannya terlindas.

Warga sekitar lalu membawa Agil ke Rumah Sakit Family Medical Center. Ia menderita luka berat di bagian tulang belikat, iga, dan kepala. Agil masih sadarkan diri, tetapi mengalami banyak patah tulang.

Cegat truk kerap dilakukan

Menurut Irwansyah, mencegat truk untuk menumpang kerap dilakukan pelajar di jalur tersebut. Mereka juga sukar diperingatkan.

Sebelum mencegat truk pasir yang melaju dari arah Kota Bogor menuju Jakarta, belasan siswa SMP itu juga baru turun dari truk yang mengantar mereka dari depan sekolah ke Nanggewer, Cibinong.

Keluarga Agil mengetahui kejadian itu tak lama setelah kecelakaan terjadi pukul 11.50. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari lokasi kecelakaan di Nanggewer.

Yadi (47), paman Agil, saat ditemui di ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Family Medical Center mengatakan, saat kecelakaan, keponakannya itu baru pulang dari sekolah.

Dia tak menyangka Agil ikut-ikutan mencegat truk untuk menumpang saat pulang sekolah.

”Dia anaknya baik, enggak pernah macam-macam. Mungkin ini hanya karena disuruh teman-temannya,” tutur Yadi.

Biasanya, Agil pulang menggunakan angkutan umum karena jarak antara sekolah dan rumahnya sekitar 4 kilometer.

Menurut Yadi, kini pihak keluarga juga sedang pusing memikirkan biaya pengobatan Agil yang pasti besar.

Ayah dan ibu Agil bekerja sebagai buruh di pabrik garmen di Cibinong. Upahnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, mereka memiliki dua anak yang menjadi tanggungan.

Sementara ini, pengobatan Agil, menurut Yadi, ditanggung Jamsostek.

”Untuk pengobatan jangka panjang, kami meminta pihak yang menabrak juga mau ikut membantu,” tuturnya. (Antony Lee/Ratih P Sudarsono )

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.