Kompas.com - 11/06/2013, 16:35 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

BIREUEN, KOMPAS.com Tgk Nurhayati, tokoh perempuan di Bireuen, menyayangkan kelalaian sejumlah tenaga medis di ruang bersalin RSUD dr Fauziah, Bireuen, hingga lagi-lagi mengakibatkan nyawa bayi yang baru lahir tak bisa diselamatkan.

Tgk Nurhayati mengaku mendapat laporan pada Jumat (7/6/2013) malam bahwa salah seorang anggota keluarga miskin yang melahirkan di ruang bersalin rumah sakit milik pemerintah tersebut tidak dilayani sesuai prosedur pelayanan. Akhirnya, bayi yang dilahirkan meninggal saat persalinan.

"Kendati orangtua korban tak mempermasalahkan hal tersebut, sewajarnya persoalan ini disikapi serius karena menyangkut nyawa orang, apalagi ini jelas-jelas malapraktik," ungkap Nurhayati, Selasa (11/6/2013).

Nurhayati mengisahkan, pada malam kejadian, ibu bayi malang itu, Nurhayati, warga Desa Geulanggang Teungah, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, sudah diserang rasa sakit luar biasa ketika masuk ke ruang bersalin. Di sana, Nurhayati dan suaminya, Efendi, hanya diperiksa oleh tiga petugas medis yang belakangan diketahui siswa sebuah sekolah kesehatan yang sedang praktik.

"Bidan tidak masuk ke dalam, walaupun mereka tahu ada pasien mau melahirkan; hanya menyuruh anak praktik masuk periksa," urai Nurhayati.

Hasil pemeriksaan tersebut diserahkan kepada bidan, tetapi dianggap belum saatnya melahirkan. Padahal, diakui Tgk Nurhayati, sang ibu ini sudah tiga kali memanggil karena merasakan air ketuban tumpah terlalu banyak, dan perutnya mulas luar biasa. Lagi-lagi, siswa praktik meminta ibu korban untuk bersabar hingga waktunya.

Beberapa lama kemudian masuk tiga bidan dan terkaget menyaksikan kondisi dan ketuban yang mulai mengering. Secepatnya mereka mengambil tindakan untuk menuntun Nurhayati yang kondisinya mulai kepayahan karena kehabisan tenaga menahan sakit sejak lama.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada saat itu, ibu korban masih sadar dan melihat sendiri bagaimana kebingungannya para bidan tadi karena peralatan banyak tidak tersedia. Mereka terlihat sibuk bergerak ke sana kemari mengumpulkan peralatan," terang tokoh perempuan ini mengutip cerita ibu bayi malang itu.

Hingga dilahirkan, bayi berjenis kelamin perempuan itu sudah tidak bersuara lagi dan belakangan diketahui meninggal. Lagi-lagi saat dokter yang seharusnya menangani baru datang, para bidan di sana tergugup dan salah tingkah.

"Persis adegan drama atau sinetron saja layaknya situasi pascakejadian itu," tutur perempuan paruh baya tersebut.

Kendati keluarga mengikhlaskan musibah itu, Tgk Nurhayati mengaku bahwa pihaknya akan meneruskan laporan ini agar menjadi pengalaman bagi petugas medis dalam memberikan jasanya.

"Bukan sekali dua kali ini saja kita mendengar kelalaian petugas medis. Bekerja di (bidang) kesehatan adalah menyangkut nyawa manusia. Jika tak becus, lebih baik keluar dan bekerja secara swasta saja, yang tidak makan gaji dari pemerintah," tandasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X