Forum Guru Endus Praktik Curang PSB di Bandung

Kompas.com - 10/06/2013, 16:56 WIB
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com - Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) dan Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengendus adanya titip menitip anak pejabat untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah favorit di Bandung. Praktik itu terjadi saat penerimaan siswa baru (PSB) baik SD, SMP maupun SMA.

"Kita mendesak jajaran pendidikan seperti Disdik Jabar, anggota dewan, aparatur, para guru, pengurus di bidang jalur prestasi dan calo-calo terkait yang terlibat di bidang pendidikan, dan tokoh pendidikan lainnya agar tidak seenaknya titip menitip anak yang akan daftar ke sekolah favorit dengan cara main duit. Makanya, kita mendesak mereka agar meneken pakta integritas," tegas Sekretaris Jenderal Iwan Hermawan saat ditemui di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Jawa Barat, Senin (10/6/2013).

Berdasarkan penelusuran dan investigasi FAGI an FGI, para pelaku curang itu banyak dilakukan kalangan yudikatif, eksekutif dan legislatif. Para siswa yang belum jelas prestasi dan legalitas dapat dengan mudah memasuki sekolah favorit yang diinginkannya dengan cara main duit. Padahal smart, skill, kompetensi ataupun integritasnya masih belum tentu teruji.

Sementara, kata Iwan, siswa yang tidak mampu dan punya segudang prestasi tersingkirkan oleh mereka-mereka yang punya kekuasaan dan berduit tebal. Hal ini masih terjadi di banyak sekolah di Bandung, mulai tingkat SD, SMP dan SMA.

Menurutnya, di Bandung sendiri, kecurangan seperti ini sudah marak sejak tahun-tahun sebelumnya. Para penguasa dan berduit dapat seenaknya memanfaatkan kecurangan dengan cara seperti ini.

Hal seperti ini, kata Iwan, masih terjadi pada pendaftaran siswa tahun sebelumnya. Jual beli kursi masih terjadi, tak peduli siswa itu berprestasi atau tidak. Misalnya, pihak sekolah bernegosiasi dengan tokoh pendidikan atau sebaliknya, ataupun dengan para pengurus di jalur prestasi.

"Asal jelas itung-itungannya, jelas sesuai kesepakatan, ya anak itu langsung bisa masuk dan diterima di sekolah itu. Berdasarkan pengamatan saya, cara curang seperti ini umumnya banyak dilakukan kalangan yudikatif, eksekutif dan legislatif. Tak sedikit juga masyarakat biasa yang memanfaatkan jaringan," jelasnya.

Menurut Iwan, praktik tersebut jelas curang dan licik. Titip menitip siswa merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

"Yang bodoh dapat dengan mudahnya bisa lolos, karena ada uang pelicin, bisa mencapai puluhan juta rupiah, sementara yang pintar dan cerdas tersingkirkan karena tidak mempunyai uang. Bagaimana bangsa Indonesia mau maju kalau sistem pendidikannya seperti ini?" tanya Iwan.

Sebentar lagi SMP atau SMA/K akan membuka pendaftaran calon siswa baru. Iwan menyatakan FAGI dan FGII akan memantau penerimaan siswa baru untuk mencegah praktik titip menitip siswa.

"Kita pantau, kita selidiki, kita telusuri. Jika menemukan kecurangan atau sogok menyogok, kita akan tindak tegas. Kita akan proses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku," tegasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Salatiga Perintahkan Pendampingan Disabilitas Dilakukan Menyeluruh

Wali Kota Salatiga Perintahkan Pendampingan Disabilitas Dilakukan Menyeluruh

Regional
Debat Pilkada Putaran Kedua, Gibran Ingin Solo Utara Jadi Pusat Perdagangan, Bajo Bangun Jalan Layang

Debat Pilkada Putaran Kedua, Gibran Ingin Solo Utara Jadi Pusat Perdagangan, Bajo Bangun Jalan Layang

Regional
Tenda Terendam Air Hujan, Ribuan Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Direlokasi

Tenda Terendam Air Hujan, Ribuan Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Direlokasi

Regional
Diterjang Puting Beliung, 23 Rumah Warga di Kalsel Porak-poranda

Diterjang Puting Beliung, 23 Rumah Warga di Kalsel Porak-poranda

Regional
BNPB: Jalur Evakuasi di Gunung Semeru Harus Segera Dibangun

BNPB: Jalur Evakuasi di Gunung Semeru Harus Segera Dibangun

Regional
Bupati Positif Covid-19, Puluhan Pejabat Pemkab Bantaeng Jalani 'Swab Test'

Bupati Positif Covid-19, Puluhan Pejabat Pemkab Bantaeng Jalani "Swab Test"

Regional
Bayi Laki-laki Ditemukan Tewas Terbungkus Plastik di Pinggir Jalan

Bayi Laki-laki Ditemukan Tewas Terbungkus Plastik di Pinggir Jalan

Regional
Strategi Paslon Majukan Daerah, Gibran Fokus Pemulihan Ekonomi, Bajo Gandeng Koalisi Rakyat

Strategi Paslon Majukan Daerah, Gibran Fokus Pemulihan Ekonomi, Bajo Gandeng Koalisi Rakyat

Regional
8 Demonstran Terlibat Ricuh di Depan KPU Sulsel Dikenakan Wajib Lapor

8 Demonstran Terlibat Ricuh di Depan KPU Sulsel Dikenakan Wajib Lapor

Regional
Satgas Sebut Pemerintah Pusat Keliru Sampaikan Data Covid-19 di Papua karena Masalah Sistem

Satgas Sebut Pemerintah Pusat Keliru Sampaikan Data Covid-19 di Papua karena Masalah Sistem

Regional
Imbas Kerumunan Penonton Sepak Bola di Serang, Seorang Kapolsek Dicopot

Imbas Kerumunan Penonton Sepak Bola di Serang, Seorang Kapolsek Dicopot

Regional
7 Kabupaten yang Gelar Pilkada di NTT Kekurangan Surat Suara

7 Kabupaten yang Gelar Pilkada di NTT Kekurangan Surat Suara

Regional
Video Viral Sebuah Bus Lawah Arah Saat Macet, Sopir Akhirnya Kabur karena Dipukuli Massa

Video Viral Sebuah Bus Lawah Arah Saat Macet, Sopir Akhirnya Kabur karena Dipukuli Massa

Regional
22 Nakes Positif Covid-19, Poli Rawat Jalan RSUD dr Moh Saleh Tutup 2 Hari

22 Nakes Positif Covid-19, Poli Rawat Jalan RSUD dr Moh Saleh Tutup 2 Hari

Regional
Menkopolhukam Perintahkan Aparat Tangkap Ali Kalora dan Pengikutnya Sebelum Natal

Menkopolhukam Perintahkan Aparat Tangkap Ali Kalora dan Pengikutnya Sebelum Natal

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X