Kompas.com - 05/06/2013, 12:44 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka dalam kasus ledakan di PT Arifin Sidayu, Lumajang, Jawa Timur, Fungky Ismanto, mendapat pesanan untuk membuat 10 bom rakitan melalui transaksi elektronik. Aparat kepolisian masih mendalami pihak pemesan dari transaksi elektronik yang digunakan.

"Menurut tersangka, dia membuat bom karena ada pesanan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (5/6/2013).

Boy menmbahkan, pengakuan tersangka harus dibuktikan melalui proses penyelidikan yang lebih mendalam. Saat ini, Kepolisian Resor Lumajang dengan dibantu tim Densus 88 Antiteror intensif menyelidiki bahan material bom rakitan yang meledak di PT Arifin Sidayu, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu pekan lalu.

Bahan material bom rakitan itu mirip dengan bom rakitan dari jaringan pelaku teror selama ini. Boy menjelaskan, sejak terjadi ledakan bom rakitan di PT Arifin Sidayu, tersangka Fungky menyebut bahwa bom itu merupakan bom ikan.

Namun, setelah tersangka diperiksa dan didalami, ada hal-hal yang tidak wajar dalam transaksi elektronik yang digunakan. Ketidakwajaran itu diduga terkait dengan rencana aksi teror.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.