Pantai Tulap Amat Berbahaya

Kompas.com - 27/05/2013, 03:45 WIB
Editor

Manado, Kompas - Polisi masih menyelidiki tenggelamnya sembilan remaja di Pantai Tulap, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu lalu. Hingga Minggu (26/5) belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Semua korban tidak naik perahu.

Kepala Polres Minahasa Ajun Komisaris Besar Henny Posumah memastikan, korban meninggal karena air laut di Pantai Tulap tiba-tiba pasang. ”Mereka tidak naik perahu, tetapi air pasang,” ujarnya, Minggu, yang dihubungi dari Manado, ibu kota Sulut.

Menurut Henny, kesembilan korban tewas itu sudah ditemukan oleh tim penolong yang bekerja hingga Sabtu malam. Semua korban diotopsi di Rumah Sakit Bethesda, Tomohon, untuk penyelidikan. Korban juga telah dibawa pulang keluarganya untuk dimakamkan.

Kesembilan korban tewas itu adalah Pingkan Mentu (18), Rezky Walangitan (18), Valdano Surentu (16), Geronimo Mailantang (17), Angie Tengkel (14), Gabriella Surentu (15), Sherina Onggeleng (15), Morina Rarung (14), dan Dandi Wuisan (14). Pingkan dan Rezky baru lulus dari SMA Negeri Tondano. ”Waktu pergi ke pantai, Pingkan tampak ceria. Ia katanya mau merayakan kelulusannya,” ungkap Vonny, teman korban.

Jennifer Alexander, korban selamat dalam kejadian itu, yang kini dirawat di Rumah Sakit Sam Ratulangi, Tondano, bercerita, ketika mengetahui air pasang diikuti ombak besar, semua orang yang tengah bermain di pantai itu berlari menyelamatkan diri. ”Saya berusaha kuat untuk mencapai daratan dengan berenang,” katanya.

Arus kuat

Melky Kansil, warga kawasan Tulap, mengatakan, korban mandi agak ke tengah laut, sekitar 100 meter dari pantai. Saat itu air surut sehingga banyak pengunjung yang ke tengah laut.

”Waktu itu tandusang (air surut), tetapi hanya satu jam air mendadak naik, diikuti ombak,” katanya. Upaya menyelamatkan korban dilakukan sejumlah warga Pantai Tulap. Namun, karena banyak orang yang harus ditolong, korban terlepas.

Menurut Melky, tidak kurang dari 10 orang bisa ditarik ke pantai sehingga luput dari terjangan gelombang. Ia menyebut arus di bawah laut cukup kuat. Banyak korban terseret saat berusaha lari ke darat.

Amon Tumonggor, pemerhati lingkungan di Minahasa, yang sehari-hari menangkar penyu hijau di kawasan itu, mengatakan, banyak pantai yang menjadi tempat rekreasi warga saat hari libur di Minahasa. Namun, Pantai Tulap dengan pasir putih yang memanjang ratusan meter menjadi tempat favorit.

Menurut Amon, peristiwa yang menimpa kesembilan remaja itu bukan yang pertama terjadi di Pantai Tulap. Pantai yang indah itu terkenal memiliki arus kuat di bawah laut. Banyak kasus orang tenggelam di sini.

Korban, Minggu, didoakan di Gereja GMIM Sentrum, Liningaan, Kabupaten Tondano, asal kesembilan korban. (ZAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.