Kompas.com - 17/05/2013, 10:45 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

GORONTALO, KOMPAS.com — Bagi suku Polahi yang masih hidup seminomaden, menggarap lahan untuk ditanami merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pangan. Begitu pula dengan berburu atau mencari ikan di sungai. Namun, ironisnya, pekerjaan yang semestinya dikerjakan oleh lelaki dewasa ini di suku Polahi justru malah dikerjakan oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Kenyataan ini paling tidak ditemui Kompas.com ketika menyambangi keluarga Polahi di pedalaman Hutan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Gorontalo, beberapa waktu lalu. Lelaki dewasa yang sudah menikah terlihat santai saja ketika para istri dan anak-anak mereka, baik anak perempuan maupun anak laki-laki, bekerja di ladang.

"Memang itu sudah kebiasaan mereka. Yang perempuanlah yang bekerja mencari makan. Juga anak-anak kecil itu bekerja membantu para perempuan. Mereka sangat lincah," ujar Kepala Dusun Pilomohuta Desa Bina Jaya, Udin Mole, yang menemani Kompas.com.

Para perempuan ini sudah bangun sejak pukul 03.00. Mereka berkumpul di bagian dapur dan menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh sembari memasak air dan makanan untuk sarapan. Begitu fajar meyingsing, mereka langsung bekerja di ladang dengan dibantu anak-anak mereka yang masih kecil.

Pekerjaan menggarap ladang tersebut sering diselingi dengan masuk hutan untuk mencari buah-buahan yang bisa dimakan atau berburu binatang. Sementara anak laki-laki juga mencari ikan di sungai yang ada di sekitar mereka.

Kehidupan mereka yang sejak turun-termurun sudah berada di pedalaman hutan membuat mereka memiliki tenaga di atas rata-rata manusia normal. Dengan kelebihan itu, Polahi juga menjadi "kijang", sebutan sebagai buruh angkut barang. "Perempuan dan anak-anak ini juga yang menjadi kijang untuk mengangkut bawaan para petambang dari desa menuju lokasi tambang," ujar Udin.

Polahi merupakan sekelompok warga Gorontalo yang hingga kini masih hidup dengan segala keterbatasan di pedalaman hutan. Beberapa kebiasaan sebagai suku primitif masih mewarnai kehidupan keseharian mereka. Salah satunya, kebiasaan kawin dengan sesama saudara kandung. Namun, Polahi sudah mengenal pakaian dan nilai tukar uang.

Tak ketinggalan, salah satu kebiasaan yang bisa dikatakan sebagai diskriminasi jender masih terus mereka pertahankan. Alhasil, kebiasaan mengharuskan para perempuan yang mencari makan ini membuat para lelaki dewasa Polahi terlihat seperti hidup manja. "Mungkin karena para lelaki dewasa yang sudah kawin ini yang dianggap sebagai penerus kepala suku mereka nantinya," tutur Udin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.