Sepatu Anti-kekerasan Seksual Buatan Putra Kopral Kepala

Kompas.com - 16/05/2013, 04:05 WIB
Editor

Antony Lee

Hibar Syahrul Gafur (14) terlihat masih lelah seusai penerbangan Kuala Lumpur-Jakarta sehari sebelumnya. Namun, Senin (13/5) pagi itu, ia tetap bersemangat menenteng sebuah tas tangan berisi sepatu anti-kekerasan seksual. Sepatu kreasi yang mengantarkannya meraih medali emas di ajang bergengsi para penemu muda tingkat internasional di Malaysia. 

Pagi itu, siswa kelas II SMPN 1 Kota Bogor, Jawa Barat, tersebut menata sepatu kulit berhak tinggi, satu sol sepatu modifikasi, serta beberapa tester listrik. Ia dengan bersemangat membeberkan mekanisme kerja sepatu yang bisa menyalurkan listrik berdaya 450 volt itu, cukup untuk mengejutkan, sekaligus membuat ”lumpuh” manusia selama beberapa menit.

Arus listrik itu disalurkan melalui dua lempeng logam pipih panjang yang dipasang di ujung sol sepatu. Semua komponen elektrik disusun di bagian dalam sol sepatu. Sumber listrik berasal dari baterai berkekuatan 9 volt yang bisa diisi ulang.

Baterai tersebut dihubungkan dengan kapasitor yang menaikkan kapasitas, sekaligus menstabilkan daya listrik sebelum disalurkan ke transistor. Setelah itu, daya ditingkatkan melalui trafo kecil dengan perbandingan 1:50. Artinya, kapasitas baterai 9 volt bisa dinaikkan menjadi 450 volt.

Pengaliran listrik dikendalikan sebuah tombol di sisi sol sepatu yang dilengkapi dengan light emitting diode (LED) yang menyala saat sistem bekerja. Menurut Hibar, baterai itu bisa bertahan sehari dalam posisi siaga dan bisa digunakan untuk ”menyengat” berkali-kali. Dia menunjukkan sengatan itu dengan menempelkan obeng kecil di lempengan tersebut, yang lalu menghasilkan percikan api kecil.

”Kalau berada di tempat ramai, seperti di mal, tidak usah dinyalakan. Kalau berada di daerah sepi, baru dinyalakan. Begitu ada orang yang berniat jahat, tinggal ditendang pakai sepatu. Begitu dia kaget dan lemas, bisa melarikan diri,” tutur Hibar saat ditemui di SMPN 1 Kota Bogor.

Hibar mengaku ide itu muncul pada Juli-Agustus 2012. Saat itu, dia membaca pengumuman lomba National Young Inventor Awards (NYIA) oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di papan pengumuman di sekolahnya. Hibar tertarik untuk turut serta karena selama ini dia aktif dalam kegiatan ekstra kelompok ilmiah remaja di SMPN 1.

Saat memikirkan kreasi yang akan dikirim ke lomba itu, Hibar menonton tayangan di televisi mengenai maraknya pelecehan seksual dan pemerkosaan di Jabodetabek. Pada saat hampir bersamaan, di salah satu situs dia juga membaca kasus pemerkosaan oleh sekelompok pemuda terhadap pelajar putri di India.

”Saya berpikiran membuat perlindungan untuk perempuan. Sempat terpikir mau membuat bra yang diberi listrik, tapi saya batalkan karena bahaya. Akhirnya kepikiran sepatu karena biasanya selalu digunakan. Selain itu juga tersembunyi,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.