Kompas.com - 08/05/2013, 16:42 WIB
|
EditorTjahja Gunawan Diredja

 SURABAYA, KOMPAS.com - Semangat mewujudkan udara bersih terus digelorakan Pemerintah Kota Surabaya. Salah satunya dengan melakukan uji emisi.

Dengan cara tersebut, dapat diketahui apakah gas buang suatu kendaraan sudah melebihi ambang batas atau belum.

Uji emisi di Taman Surya, Rabu (8/5/2013), tidak hanya diperuntukkan bagi kendaraan operasional pemkot, namun kendaraan umum dan pribadi tak luput dari obyek pemeriksaan.

Selain dites kadar emisinya, kendaraan juga mendapat layanan perbaikan ringan secara cuma-cuma.

Kepala Dinas Perhubungan Surabaya, Eddi mengatakan bahwa kegiatan yang mengambil tema "Lindungi Bumi, Kurangi Emisi" itu sejalan dengan amanat Undang-undang 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Menurut dia, tujuan uji emisi ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya udara bersih bagi kesehatan manusia.

Dishub mulai rutin menggelar uji emisi sejak 2009. Khusus untuk mobil angkutan umum, angkutan barang, dan bus, uji emisi wajib dilaksanakan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Prosesnya, lanjut Eddi, sudah dilakukan saat pengujian kendaraan bermotor.

"Pengujian secara periodik, enam bulan sekali. Makanya, bisa dilihat sendiri, beberapa angkutan kota (angkot) yang diuji emisi tadi sebagian besar lulus uji, meski kondisi kendaraannya sekilas sudah tidak terlalu bagus. Itu karena kami rutin melakukan pengujian. Kalau tidak lulus, tidak akan dibiarkan beroperasi," kata Eddi saat ditemui di sela-sela uji emisi.

Selama lebih kurang empat jam pelaksanaan, tercatat sebanyak 213 kendaraan memanfaatkan uji emisi di Taman Surya.

Dari jumlah tersebut, 86 kendaraan dinyatakan tidak lulus uji emisi. Rinciannya, 28 kendaraan berbahan bakar bensin dan 58 berbahan bakar solar.

Menanggapi temuan itu, Eddi menyatakan, banyak faktor yang menjadi penyebab gas buang kendaraan melebihi ambang batas.

Menurutnya, bisa jadi karena ring piston sudah tidak bagus sehingga kompresinya tidak optimal. Kemungkinan lain bisa dipicu oleh sistem pengapian yang tidak pas.

"Kalau masih berskala ringan bisa dibantu di layanan perbaikan ringan. Jika sifatnya sudah berat, pengendara diarahkan ke bengkel untuk membenahinya," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X