Kompas.com - 28/04/2013, 19:05 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

PURWOKERTO, KOMPAS.com - Sekitar 200 mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Save Soedirman, Minggu (28/4/2013), menggelar aksi unjuk rasa menentang penetapan nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) secara sepihak oleh pihak rektorat. Mereka melakukan aksi teatrikal di Pemakaman Umum Kelurahan Grendeng, Purwokerto.

Salah satu demonstran, Aulia El Hakim, mengatakan, mahasiswa kecewa penetapan nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampus negeri tersebut tidak melibatkan mahasiswa dalam pembahasannya, seperti yang dijanjikan rektor.

"Sebelumnya rektorat sudah berjanji akan melibatkan kami dalam pembahasannya. Tapi nyatanya mereka menutup akses mahasiswa dan parahnya mereka menetapkan UKT sepihak," katanya.

Dalam aksi itu mahasiswa juga membawa keranda berisi pocongan, yang menyimbolkan matinya hati nurani pejabat Unsoed. Selain pocongan, mereka juga membawa nisan bertuliskan "RIP Hati Nurani Rektorat Unsoed bin Pengkhianat".

Peserta aksi yang berpakaian serba hitam mengarak keranda dari Kampus Fisip menuju pemakaman umum Kelurahan Grendeng. Dalam perjalanan mereka meneriakkan kata "rektorat pengkhianat", lantaran Rektorat Unsoed dianggap tidak menepati janji untuk melibatkan mahasiswa dalam proses penetapan nominal UKT.

Penetapan UKT mendapatpenentangan karena nyatanya, dinilai sangat membebani mahasiswa. Padahal, prinsip UKT awalnya untuk mengefisiensikan biaya kuliah di perguruan tinggi.

Aksi tersebut merupakan lanjutan dari demonstrasi mahasiswa yang terjadi di Unsoed pada 12 Desember 2012. Saat itu ribuan mahasiswa menduduki rektorat karena kecewa dengan tingginya nominal UKT.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Koordinator Save Soedirman, Munirah Dinayati, mengungkapkan, setelah aksi 12 Desember pihak rektorat bertemu dengan mahasiswa dan bersepakat akan melibatkan mahasiswa dalam penetapan UKT.

"Dalam pertemuan itu, Rektor Unsoed Edy Yuwono sudah menandatangani surat perjanjian dengan kami pada 17 Desember 2012. Dia berjanji melibatkan mahasiswa dalam pembahasan UKT. Pada perjanjian itu. Tetapi, faktanya tidak ada revisi seperti hitung-hitungan yang kami sodorkan kepada mereka," katanya.

Tim Media Save Soedirman, Vinisa N Aisyah, menambahkan, mahasiswa sudah beberapa kali ditolak mengikuti rapat pembahasan UKT. "Pada rapat-rapat terakhir, kami tidak diperbolehkan masuk ruangan rapat," katanya.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X