Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berharap Misteri Cebongan Terungkap di Peradilan Militer

Kompas.com - 15/04/2013, 09:27 WIB
Ferry Santoso

Penulis

KOMPAS.com - Kurang dari dua minggu, Tim Investigasi TNI AD mengumumkan 11 anggota Kopassus yang diduga terlibat dalam penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, yang menewaskan empat tahanan titipan Polda DIY. Pengumuman itu patut diapresiasi karena menunjukkan sikap jujur dan kesatria TNI AD, juga sikap jujur 11 anggotanya.

Ketua Tim Investigasi TNI AD Brigadir Jenderal Unggul Yudhoyono menjelaskan, motif para pelaku adalah setia kawan kepada almarhum Sersan Kepala Santoso yang tewas diserang beramai-ramai di Hugo’s Cafe. Penyiksaan sadis yang dialami Santoso, yang juga melibatkan empat tahanan yang dititipkan di LP Cebongan tersebut, membuat teman-temannya di Kopassus marah (Kompas, 5/4).

Akan tetapi, pengumuman itu menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa tiba-tiba pihak TNI AD mengumumkan hal itu? Bukankah saat itu aparat kepolisian sedang mengusut intensif kasus itu? Mengapa anggota yang diduga menyerang hanya 11 orang? Bukankah saat penyerangan, gerombolan penyerang disebut-sebut atau diperkirakan terdiri atas 17-18 orang?

Unggul juga menjelaskan motif para pelaku adalah setia kawan dengan Santoso yang tewas diserang beramai-ramai di Hugo’s Cafe. Apa sebenarnya yang terjadi di Hugo’s Cafe sehingga Santoso diserang? Sebagai anggota intel Kodim, ”misi” intelijen apa yang diemban Santoso sehingga sampai diserang sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai preman?

Penyerang Santoso juga diperkirakan 10 orang. Namun, aparat kepolisian baru dapat menangkap empat orang yang kemudian ditembak di LP Cebongan. Siapa sebenarnya keenam orang lainnya itu?

Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, aparat kepolisian tentu akan mengusut jika ada informasi pelaku yang mengeroyok Santoso sebanyak 10 orang. Namun, pengusutan tidak mudah karena pelaku utama pengeroyokan dan pembunuhan itu sudah tewas. Meski demikian, pengusutan tetap diupayakan.

Akan tetapi, atas kasus penyerangan di LP Cebongan, menurut Boy, aparat kepolisian menyerahkan sepenuhnya kepada polisi militer karena polisi militer juga penyidik. Polisi pun siap menyerahkan bahan-bahan penyelidikan kepada polisi militer. Akhir pekan lalu, Polda DIY memang menyerahkan sejumlah bahan penyelidikan terkait kasus LP Cebongan ke TNI.

Kualitas penyelidikan

Sejauh mana polisi militer dapat mengungkap kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa penyerangan di LP Cebongan dan keterkaitannya dengan peristiwa di Hugo’s Cafe? Hal itu tentu sangat tergantung pada kualitas penyelidikan dan penyidikan serta kemauan penyidik polisi militer TNI untuk mengungkap latar belakang di balik kasus penyerangan itu.

Namun, banyak pihak meragukan kemampuan dan kemauan polisi militer, termasuk Tim Investigasi TNI AD. Pendiri Institut Kebajikan Publik, Usman Hamid, mempertanyakan bagaimana Tim Investigasi TNI AD dapat menyatakan 11 anggota Kopassus terlibat dengan hanya berdasarkan pengakuan mereka.

Usman juga mempertanyakan apakah pengakuan itu lebih didasarkan rasa takut kepada atasan atau komandan. ”Bagaimana kalau setiap kali ditanya, jawabannya ’siap komandan’, ’siap ndan’,” tutur Usman. Ia juga mempertanyakan bukti material apa yang diperoleh tim investigasi untuk memperkuat tuduhan bahwa 11 anggota Kopassus itu benar-benar terlibat.

Usman juga mempertanyakan sejauh mana pertanggungjawaban komando dalam pergerakan 11 anggota Kopassus itu. Pimpinan atau komandan tidak boleh sekadar tidak memerintahkan sesuatu atau tidak membiarkan sesuatu, tetapi wajib tahu. ”Investigasi tidak menyentuh sistem komando,” katanya.

Kejanggalan dalam kasus ini juga diungkapkan sosiolog Tamrin Amal Tomagola. Dia menilai ada penyesatan informasi yang disampaikan pihak TNI AD. Tim Investigasi TNI AD menyebutkan, penyerangan itu spontan karena terdorong jiwa korsa.

Padahal, lanjut Tamrin, ada jeda tiga hari sejak Santoso dibunuh hingga penyerangan itu. Dalam tiga hari itu terjadi komunikasi yang intensif antara sejumlah pihak, seperti petinggi Polri dan TNI di Yogyakarta.

Selain itu, menurut dia, penyerangan itu tidak dapat dinilai sebagai reaksi spontan. Para pelaku membutuhkan waktu untuk turun dari kawasan Gunung Lawu, merencanakan, dan menyerang LP Cebongan.

Tamrin juga mempertanyakan alasan kesatria para pelaku dengan mengakui perbuatan mereka. Menurut dia, pengakuan itu lebih didasarkan pada situasi terpojok karena diduga ditemukan telepon seluler petugas LP Cebongan di salah satu barak Grup II Kopassus.

Kejanggalan-kejanggalan itu seharusnya terungkap di peradilan militer. Dengan demikian, dapat terungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik penyerangan LP Cebongan. Jika tidak, publik tentu bisa menduga bermacam-macam motif dan latar belakang di balik penyerangan itu. (FERRY SANTOSO)

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Terkini Lainnya

    Soal “Dissenting Opinion” Putusan Sengketa Pilpres, Pakar Singgung Politik 2 Kaki

    Soal “Dissenting Opinion” Putusan Sengketa Pilpres, Pakar Singgung Politik 2 Kaki

    Nasional
    Prabowo Cuma Lambaikan 2 Jari Usai MK Tolak Gugatan Anies dan Ganjar, Disebut Butuh Istirahat

    Prabowo Cuma Lambaikan 2 Jari Usai MK Tolak Gugatan Anies dan Ganjar, Disebut Butuh Istirahat

    Nasional
    Kantor DPP PDI-P Tampak Sepi Pasca-Putusan MK yang Tolak Gugatan Ganjar-Mahfud

    Kantor DPP PDI-P Tampak Sepi Pasca-Putusan MK yang Tolak Gugatan Ganjar-Mahfud

    Nasional
    Sidang Sengketa Pilpres Usai, PBNU Ucapkan Selamat ke Prabowo-Gibran

    Sidang Sengketa Pilpres Usai, PBNU Ucapkan Selamat ke Prabowo-Gibran

    Nasional
    Sukses Layani Jutaan Pemudik, Satgas Rafi Pertamina 2024 Resmi Ditutup

    Sukses Layani Jutaan Pemudik, Satgas Rafi Pertamina 2024 Resmi Ditutup

    Nasional
    Ditanya Kemungkinan Gabung dengan Pemerintahan ke Depan, Surya Paloh: Ada Usulan Lain?

    Ditanya Kemungkinan Gabung dengan Pemerintahan ke Depan, Surya Paloh: Ada Usulan Lain?

    Nasional
    Suharto Jadi Wakil Ketua MA, Rekam Jejak Pernah Anulir Vonis Mati Ferdy Sambo

    Suharto Jadi Wakil Ketua MA, Rekam Jejak Pernah Anulir Vonis Mati Ferdy Sambo

    Nasional
    Tanggapi Putusan MK, Istana: Tuduhan-tuduhan kepada Pemerintah Selama Pilpres Tak Terbukti

    Tanggapi Putusan MK, Istana: Tuduhan-tuduhan kepada Pemerintah Selama Pilpres Tak Terbukti

    Nasional
    Ketika Massa Teriakkan 'Turunkan Jokowi' Saat Melewati Rumah Megawati...

    Ketika Massa Teriakkan "Turunkan Jokowi" Saat Melewati Rumah Megawati...

    Nasional
    Setelah Putusan MK, Surya Paloh Anggap Hak Angket Tak Relevan Lagi

    Setelah Putusan MK, Surya Paloh Anggap Hak Angket Tak Relevan Lagi

    Nasional
    Wakil Ketua KPK Mengaku Belum Terima Sprindik Baru Eddy Hiariej dari Kedeputian Penindakan

    Wakil Ketua KPK Mengaku Belum Terima Sprindik Baru Eddy Hiariej dari Kedeputian Penindakan

    Nasional
    Saksi Sebut Eks Sekjen Kementan Perintahkan Hapus Catatan Keuangan untuk Kepentingan SYL

    Saksi Sebut Eks Sekjen Kementan Perintahkan Hapus Catatan Keuangan untuk Kepentingan SYL

    Nasional
    KPK Akan Telusuri Dugaan Keterlibatan Keluarga SYL dalam Pencucian Uang

    KPK Akan Telusuri Dugaan Keterlibatan Keluarga SYL dalam Pencucian Uang

    Nasional
    KPK Akan Cegah Keluarga SYL ke Luar Negeri Lagi jika Keterangannya Masih Dibutuhkan

    KPK Akan Cegah Keluarga SYL ke Luar Negeri Lagi jika Keterangannya Masih Dibutuhkan

    Nasional
    MK Tolak Permohonan Diskualifikasi Gibran, Kubu Prabowo Sebut Dugaan Kecurangan Cuma Asumsi

    MK Tolak Permohonan Diskualifikasi Gibran, Kubu Prabowo Sebut Dugaan Kecurangan Cuma Asumsi

    Nasional
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com