Kompas.com - 10/04/2013, 11:02 WIB
|
EditorFarid Assifa

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com Ratusan pengusaha penggilingan padi yang tergabung dalam Perpadi Polewali Mandar resah beras mereka tak terserap oleh Perum Bulog Divisi Regional IV Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Akibatnya, ribuan ton beras milik mereka menumpuk di gudang dan terancam rusak jika dibiarkan terlalu lama.

Para pengusaha menilai alasan Bulog menolak beras Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) karena gudang penuh tak bisa dibenarkan. Menurut mereka, pemerintah berkewajiban secara nasional menyerap setiap gabah petani.

Ketua Perpadi Polewali Mandar Bahrun Bando menyatakan, saat ini ada sekitar 500 ton beras menumpuk dan tidak terserap bulog. Sementara para pengusaha penggilingan juga terancam merugi lantaran ratusan ton beras dan gabah yang mereka tampung tak bisa terjual.

Menurut Bahrun, pihak Bulog menolak beras Perpadi dengan alasan saat ini tiga gudang Bulog di Polewali yang membawahi wilayah Mamasa, Polewali, dan Majene sedang penuh. Namun, ia tidak menerima alasan Bulog tersebut. Menurut dia, Bulog secara nasional berkewajiban menyerap beras petani agar mereka tak merugi terutama saat puncak musim panen.

Bahrun bersama Perpadi Polewali Mandar mengancam akan mengelar aksi unjuk rasa di kantor Bulog Polewali Mandar jika beras mereka tetap tidak dibeli Bulog. Menurut Bahrun, Perpadi awalnya akan turun demonstrasi pada Kamis (11/4/2013), tetapi rencana itu diundur hingga pekan depan jika Bulog tidak memenuhi kewajibannya menyerap gabah dan beras petani.

Anggota Perpadi, Sadman Agus, merasa dirugikan atas keputusan Bulog tidak membeli beras Perpadi. Padahal, menurut Agus, perusahaan pelat merah itu berkewajiban menyerap gabah dan beras agar tidak merugikan petani.

Harga gabah di tingkat petani sendiri Rp 3.200 hingga Rp 3.300 per kilogram. Jika situasi ini tidak segera diantisipasi, khawatir akan berdampak pada penurunan harga gabah dan beras yang merugikan petani. Bulog pun diminta mengatasi masalah ini.

"Kalau bulog tidak berinisiatif mengatasi masalah ini, kami aksi pekan depan untuk memprotes kebijakan Bulog yang melanggar ketentuan dan merugikan petani serta pengusaha," kata Agus.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X