Kelestarian Labi-labi Masih Terancam Penyelundupan

Kompas.com - 02/04/2013, 03:46 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS - Upaya penyelundupan kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat pekan lalu, menunjukkan, kelestarian satwa langka masih terancam, meski penyelundapan itu digagalkan. Sejak tahun 2010, setidaknya tiga kali upaya penyelundupan sekitar 2.000 ekor anakan moncong babi atau labi- labi digagalkan di Merauke, Mimika, dan Papua.

”Belum berhentinya perdagangan satwa dilindungi mengindikasikan kelestarian satwa langka masih terancam,” kata Koordinator Satwa Langka WWF Indonesia Chairul Saleh di Jakarta, Senin (1/4). Labi-labi dikategorikan satwa dilindungi.

Data WWF, permintaan terhadap satwa langka meningkat. ”Ada dua ancaman pelestarian satwa dilindungi, kerusakan habitat dan perdagangan,” ujarnya.

Jumat pekan lalu, Badan Karantina Pertanian, Badan Karantina Ikan, dan pihak maskapai penerbangan memergoki pengiriman 687 labi-labi. Labi-labi berumur sekitar sebulan itu diletakkan di dalam koper berisi kotak tripleks yang diberi alas kain basah.

”Di pengambilan bagasi, koper berisi kura-kura moncong babi pecah. Dibawa menggunakan pesawat penumpang dari Papua transit di Makassar dan tujuan akhir Jakarta. Dugaannya akan dijual di Jakarta,” kata Kepala Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Jakarta I, Teguh Samudro.

Berkali-kali

Di Merauke, Timika, dan Sentani, daerah endemis hewan ini, kura-kura moncong babi disebut labi-labi. Beberapa kali, labi-labi diangkut ke Jakarta untuk sebagian diselundupkan ke Hongkong. Namun, tak pernah dikabarkan tersangkanya tertangkap.

Berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pengangkutan setiap tumbuhan dan satwa langka harus disertai Surat Keterangan Angkut Tumbuhan/Satwa, baik tujuan dalam/luar negeri. Selain itu, labi-labi media pembawa penyakit ikan sehingga perlu dilengkapi surat kesehatan ikan.

”Kami sedang mencari pemiliknya. Diancam Pasal 6 UU No 16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dengan ancaman penjara maksimal tiga tahun dan denda maksimal Rp 150 juta,” katanya. (K03)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.