Kompas.com - 21/03/2013, 19:36 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

TIMIKA, KOMPAS.com - Kepala Polda Papua Irjen Tito Karnavian menegaskan, situasi Kota Timika sudah kondusif, pascaterjadi bentrok antarpendulang di areal pengendapan tailing mil 34, yang menewaskan enam orang Jumat lalu.

Namun, menurut Tito, masih perlu dilakukan langkah lanjutan berupa dialog yang melibatkan semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Hal ini diungkapkan Tito usai mengunjungi kediaman keluarga Yosef Batfian, salah seorang korban bentrok di Jalan Bougenville, Jalur 4 Timika, pagi tadi Kamis (21/3/2013).

Menurut Tito, bentrok antarpendulang yang menewaskan enam orang di Timika menjadi perhatian Polda Papua. Karenanya, Polda sudah menurunkan tim ke Timika sejak Sabtu (16/3/2013) yang dipimpin Kasat Narkoba Polda Papua, Kombes Erni W bersama Kasat Brimob Polda Papua, Kombes Soegeng S untuk mendampingi Polres Mimika.

Tito juga memerintahkan Kapolres Mimika untuk segera berkoordinasi dengan TNI, dengan Pemerintah Kabupaten Mimika dan DPRD Mimika untuk segera meredam dan melokalisasi agar pertikaian tidak meluas. Melalui koordinasi dengan Kodam Cenderawasih, juga dilakukan gelar pasukan gabungan Polri-TNI untuk mengosongkan lokasi pertikaian di areal pengendapan tailing mil 34 serta mengamankan lokasi-lokasi rawan lainnya.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada TNI, Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, jajaran DPRD Mimika bersama tokoh masyarakat yang satu visi, sehingga semua pihak bisa menahan diri, dan tidak terjadi bentrokan susulan. Dengan situasi yang sudah tercipta sekarang ini, kami bisa melakukan upaya penegakan hukum untuk melakukan investigasi dan mencari pelaku pertikaian," jelas mantan komandan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Pada jumat lalu (15/3/2013) terjadi bentrok antarkelompok pendulang di areal pengendapan tailing mil 34 yang mengakibatkan enam orang tewas. Akibat kejadian ini aparat kepolisian bersama TNI melakukan evakuasi terhadap ribuan pendulang mengantisipasi terjadi bentrok susulan. Bentrokan berawal dari penganiayaan oleh sekelompok pendulang terhadap pendulang asal Kwamki. Tak terima dengan penganiayaan ini, pendulang dari Kwamki melakukan aksi balasan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa lainnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.