Ikan di Jatiluhur Kritis

Kompas.com - 17/01/2013, 04:44 WIB
Editor

PURWAKARTA, KOMPAS - Ribuan ton ikan mati di Waduk Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, karena terdampak arus bawah yang naik ke permukaan. Pemilik jaring apung atau keramba ikan memanen ikan sebelum masanya. Kerugian selama sepekan terakhir diperkirakan miliaran rupiah.

Ikan mati sejak Kamis pekan lalu dan mencapai puncaknya pada Rabu (16/1). Ribuan ikan mengapung dan mati karena kekurangan oksigen. ”Dua hari terakhir yang mati semakin banyak, sampai puluhan ton,” kata Anjas, bandar ikan tawar.

Pemilik keramba, Jeka, menjelaskan, dia merugi sampai Rp 150 juta lantaran sebagian besar ikannya mati. Dari 10 keramba yang berisi 25 ton ikan, sebanyak 85 persen mati. Dia terpaksa memanen sisa ikan yang masih hidup meski belum masanya.

Ikan-ikan itu hanya dapat dia jual dengan harga 80 persen lebih murah daripada harga normal. Ikan nila, yang biasa dia jual Rp 14.000-Rp 16.000 per kg, hanya dijual Rp 3.000-Rp 4.000 per kg. Tengkulak membeli ikan mati dengan harga lebih murah karena kondisinya tidak segar.

Ikan yang hidup pun terpaksa dijual murah. Ikan jambal yang seharusnya baru dipanen pada umur satu tahun terpaksa dipanen saat usianya masih 6 bulan. Ikan nila yang baru berumur 5 bulan pun dia panen, padahal seharusnya menunggu umur 7 bulan. Begitu pun dengan ikan mas, yang seharusnya dia panen pada umur 2,5 bulan, terpaksa dipanen pada usia 1,5 bulan.

Fenomena itu juga memukul usaha pakan ikan. Agus, penjual pakan, mengatakan, dalam sehari biasanya dia dapat menjual 400 karung (setara 20 ton) pakan ikan. Saat ini tokonya tutup.

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan (Hipni) Kolam Jaring Apung Waduk Jatiluhur Darwis memperkirakan, ikan yang terdampak upwelling mencapai 5.000 ton. Dengan asumsi harga jual ikan mas Rp 14.000 per kilogram, maka nilai kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.

Darwis menguraikan, fenomena ini muncul karena air permukaan terdorong oleh embusan angin sehingga lapisan air di bawah naik ke permukaan. Lapisan air yang baru naik ini minim oksigen sehingga ikan mati.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta Heri Herawan menyebutkan, ada sekitar 300 ton ikan yang mati. Pembudidaya sudah diminta tidak menanam ikan pada musim hujan, seperti Desember- Maret. Bank pemberi kredit diminta membantu usaha yang terdampak. (MHF/HEI/JON)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.