Kompas.com - 27/12/2012, 19:43 WIB
|
EditorFarid Assifa

SITUBONDO, KOMPAS.com -- Kali Deluwang di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Situbondo, Jawa Timur, akhir-akhir ini menjadi "tambang emas" dadakan, setelah dikabarkan muncul batu keramat berbentuk peti mati. Sejumlah warga Situbondo dan Kabupaten Probolinggo juga berdatangan ke kali itu untuk mencari butiran emas.

Dengan menggunakan peralatan sederhana berbahan pipa paralon yang dilengkapi kaca, warga 'meneropong' sela-sela bebatuan di dasar sungai. Lokasi pencarian butiran emas itu dilakukan warga di sekitar batu yang diyakini merupakan peninggalan Raja Majapahit Damar Wulan.  

Para pendulang yakin di balik batu yang kini terbelah menjadi dua bagian itu banyak menyimpan harta karun berupa emas dan benda-benda kuno lainnya. Sejak keberadaan batu tersebut, banyak warga dikabarkan menemukan emas dan benda kuno.  

"Dari pagi hingga sore, kami baru menemukan dua butiran emas. Kadang kami bersama teman-teman menemukan emas seberat 50 gram lalu, kami jual," kata Nanang, warga Desa/Kecamatan Suboh, Kamis (27/12/2012).  

Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir ini batu yang dikeramatkan warga itu berbentuk peti mati, namun posisinya terbalik. Batu itu kini terbelah menjadi dua bagian. Lokasi dua belah batu itu berjarak sekitar 500 meter dan sama-sama berada di aliran Kali Deluwang.  

Menurur Abdurrasyid, warga setempat, konon batu keramat berwarna hitam itu merupakan tiang pancang untuk mengikat kuda tunggangan raja Majapahit, Damar Wulan, setiap beristirahat di sekitar sungai setempat. Selain itu, di sekitar batu keramat juga biasa dijadikan lokasi pemandian kuda sang raja, namun batu itu konon muncul ke permukaan sungai setelah terjadi banjir besar beberapa tahun lalu.  

Sebelum banjir terjadi, dikabarkan salah seorang warga menemukan aneka perhiasan emas di dasar sungai. Perhiasan itu muncul sendiri saat warga sedang asyik mencuci. Sayang, begitu emas itu diangkat di dekatnya, berjalan ular ukuran besar hingga emas terlepas lagi. Anehnya, tumpukan emas itu berubah bentuk menjadi pelana kuda.  

"Saya tidak ngarang cerita ini. Yang menemukan itu istrinya Wawan, sampai sekarang orangnya masih ada. Tapi tak lama kemudian setelah penemuan batu pelana kuda, muncul batu berbentuk peti mati di lokasi tersebut," katanya.

Dia menambahkan, sejak ditemukan tumpukan emas, batu warna hitam itu sering berpindah-pindah tempat. Disebut aneh karena lokasi pindahnya batu tersebut melawan arus sungai.  

"Batu yang beratnya mencapai 1 ton itu berpindah-pindah. Anehnya batu itu pindah ke hulu sungai dengan jarak 3-7 meter. Dulu ada seorang pengusaha mencoba untuk memindahkan batu keramat tersebut dengan menggunakan katrol sama penambang emas dari luar daerah. Katrol yang digunakan itu kapasitasnya 15 ton, tapi rantai katrolnya malah putus. Karena diyakini di balik batu besar itu tersimpan harta karun berupa emas," terangnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.