Badai Bantu Pembenihan di Kalsel

Kompas.com - 11/10/2012, 03:45 WIB
Editor

BANJARBARU, KOMPAS - Pembuatan hujan buatan di Provinsi Kalimantan Selatan dimulai Rabu (10/10). Penyemaian bibit hujan di provinsi ini diperkirakan mudah karena awan yang tersedia cukup banyak akibat pengaruh badai tropis di timur laut Kalimantan Timur.

”Kondisi Kalsel memungkinkan untuk penaburan garam (bibit hujan buatan). Apalagi saat ini di timur laut Kaltim sedang ada badai tropis,” jelas F Heru Widodo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dalam pembukaan pos komando hujan buatan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalsel.

Acara tersebut dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin dan Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tri Budiarto. Namun, hingga Rabu siang, pesawat jenis Cassa yang akan dipakai untuk menabur garam (NaCl) benih hujan belum sampai di Kalsel.

Menurut Heru, keberadaan badai tropis di timur laut Kaltim menarik awan dari selatan dan barat Indonesia ke arah sekitar Kalsel dan Pulau Jawa. Uap air yang tertarik itu berkumpul menjadi awan dan sebagian hujan di Jawa dan beberapa daerah di Kalsel. ”Namun, curah hujannya masih sporadis,” ucapnya.

Dengan penyemaian bibit hujan di Kalsel selama 15 hari, kata Heru, diharapkan hujan bisa turun makin intensif. Begitu program hujan buatan selesai, langsung menyambung dengan datangnya musim hujan.

Tri Budiarto menilai, waktu 15 hari itu cukup karena selama itu aktivasi awan telah optimal. Ia juga menjelaskan, pengendalian kabut asap tidak bisa dilakukan semata-mata dengan hujan buatan, tetapi juga pemadaman di darat.

Rudy Ariffin mengakui, meski hujan turun hari Senin lalu, titik api yang terpantau satelit di Kalsel masih banyak. Data titik api kumulatif hingga 8 Oktober mencapai 801 buah.

Dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu, Koordinator Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Budi Harsoyo mengakui adanya kekosongan pesawat untuk penyemaian bibit hujan buatan di provinsi itu. Kekosongan pesawat terjadi setelah pesawat milik TNI Angkatan Udara (AU) kembali ke Malang, Jawa Timur. Sementara itu, pesawat BPPT yang akan melanjutkan tugas itu mengalami persoalan teknis.

Belum dapat dipastikan kapan pesawat bisa tiba di Palangkaraya. Budi menjelaskan, dia terus meminta agar pesawat bisa segera tiba. Akibat keterlambatan pesawat dari BPPT, penerbangan untuk melaksanakan hujan buatan tidak dapat dilakukan di Palangkaraya, Rabu. (wer/bay)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.