Daerah Aliran Sungai Pesanggrahan Rusak Parah

Kompas.com - 07/04/2012, 05:13 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta dan Tangerang pekan ini disebabkan kerusakan parah di Daerah Aliran Sungai Pesanggrahan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, tersisa 7 persen lahan hijau dari total 177 kilometer persegi DAS Pesanggrahan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (6/4), menjelaskan, luapan Sungai Pesanggrahan menjadi penyumbang terbesar banjir Jakarta tahun ini. Selain Sungai Pesanggrahan, banjir juga disebabkan luapan Sungai Krukut, Angke, dan Sunter. Kerusakan DAS di ketiga sungai itu juga parah. Akibatnya, banjir tak dapat dihindari meski curah hujan pada Selasa lalu, saat mulai banjir, hanya 142 milimeter per hari. Curah hujan ini jauh lebih kecil dibandingkan saat banjir besar tahun 1996 yang mencapai 300 milimeter per hari atau banjir tahun 2007 dengan curah hujan 340 milimeter per hari.

Menurut Sutopo, hulu Sungai Pesanggrahan terletak di kawasan Tanah Sereang, Kota Bogor. Di bagian hilir, sungai ini bertemu dengan Cengkareng Drain. Dari keseluruhan luas DAS Pesanggrahan, hampir 70 persennya telah menjadi kawasan terbangun. Sebanyak 45 persen kawasan terbangun itu berada di bagian hilir, yaitu di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, serta Kedoya dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

”Sementara DAS Angke seluas 239 kilometer persegi dengan hulu di sekitar Perumahan Yasmin, Bogor, kemudian melewati Parung, Bojonggede, Ciputat, Serpong, dan bermuara di Mookervart. Hampir 60 persen luas DAS menjadi permukiman padat. Sisanya tegalan, lahan kosong, semak. Tidak ada hutan,” kata Sutopo yang juga menjelaskan secara detail masalah keempat sungai itu di situs resmi BNPB, http://www.bnpb.go.id.


Alih fungsi DAS yang parah, lanjut Sutopo, menyebabkan sungai saat ini hanya menampung 20 persen debit banjir yang ada. Hampir 70 persen air hujan yang turun langsung jadi limpasan. Di daratan, termasuk di permukiman, kondisi drainase juga buruk sehingga tidak bisa mengalirkan limpasan. Akibatnya, sekitar 80 persen air menggenangi permukiman, jalanan, dan lahan terbangun lainnya.

Guna mengatasi banjir di Kali Pesanggrahan dan sekitarnya, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 2,3 triliun. Dana tersebut untuk normalisasi tiga sungai, yaitu Pesanggrahan, Angke, dan Sunter. Proyek ini dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum yang menangani aspek teknis konstruksinya. Adapun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menangani pembebasan lahan.

Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio mengatakan, saat ini proyek normalisasi Sungai Pesanggrahan sedang berjalan. ”Tahun 2014 ditargetkan selesai. Panjang total yang dinormalisasi 27 kilometer,” katanya.

Tahun 2012, normalisasi Sungai Pesanggrahan ditargetkan selesai sepanjang 8 kilometer dan Kali Angke 6 kilometer. Badan sungai akan dilebarkan dari 10-15 meter menjadi 30-40 meter. Jika normalisasi berhasil, debit kedua sungai yang saat ini antara 30 meter kubik per detik dan 16 meter kubik per detik akan meningkat hingga 7-10 kali lipat.

Namun, baik Sutopo maupun Pitoyo menegaskan, keberhasilan normalisasi itu amat tergantung dari pembebasan lahan di bantaran sungai. Tanpa pembebasan lahan, tidak mungkin melebarkan badan kali seperti semula.

Sementara warga Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, yang permukimannya terendam banjir akibat hujan deras pada Selasa lalu mengeluhkan tata air di lingkungannya yang kurang baik. Mereka berharap pemerintah dapat memikirkan cara untuk mengatasi genangan di daerah tersebut saat hujan turun.

(NEL/MDN)



Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Doa Sang Anak untuk Rosna, Wanita Pertama Asal Maluku yang Taklukan Carstensz

Ini Doa Sang Anak untuk Rosna, Wanita Pertama Asal Maluku yang Taklukan Carstensz

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ular Berkaki Ditemukan Mati di Karhutla Riau | Ibu Muda Lahirkan Bayi Kembar 4

[POPULER NUSANTARA] Ular Berkaki Ditemukan Mati di Karhutla Riau | Ibu Muda Lahirkan Bayi Kembar 4

Regional
Mi Rebus hingga Ikan Palumara, Menu Andalan Kantin Arowana Mace Ardi Unhas yang Sulit Dilupakan

Mi Rebus hingga Ikan Palumara, Menu Andalan Kantin Arowana Mace Ardi Unhas yang Sulit Dilupakan

Regional
Fakta Kasus Kematian Zaenal Usai Berkelahi dengan Polisi, Dipukul di Halaman Satlantas hingga Mobil Patroli

Fakta Kasus Kematian Zaenal Usai Berkelahi dengan Polisi, Dipukul di Halaman Satlantas hingga Mobil Patroli

Regional
Kisah Kantin Legendaris Arowana Mace Ardi Unhas, Bisa Utang hingga Jadi Tempat Mengadu Mahasiswa

Kisah Kantin Legendaris Arowana Mace Ardi Unhas, Bisa Utang hingga Jadi Tempat Mengadu Mahasiswa

Regional
Fakta di Balik Ibu Muda Lahirkan Bayi Kembar 4, Tak Ada Keturunan hingga 1 Dapat Penangan Khusus

Fakta di Balik Ibu Muda Lahirkan Bayi Kembar 4, Tak Ada Keturunan hingga 1 Dapat Penangan Khusus

Regional
Fakta Video Asusila Guru Honorer di Purwakarta, Sakit Hati hingga Terancam 6 Tahun Penjara

Fakta Video Asusila Guru Honorer di Purwakarta, Sakit Hati hingga Terancam 6 Tahun Penjara

Regional
Heboh Toilet Tanpa Sekat di Stasiun Ciamis, Bagaimana Kisahnya?

Heboh Toilet Tanpa Sekat di Stasiun Ciamis, Bagaimana Kisahnya?

Regional
BERITA FOTO: Melihat dari Dekat Wajah Calon Ibu Kota Baru

BERITA FOTO: Melihat dari Dekat Wajah Calon Ibu Kota Baru

Berita Foto
Jumat Malam, Kualitas Udara di Pekanbaru di Level Berbahaya

Jumat Malam, Kualitas Udara di Pekanbaru di Level Berbahaya

Regional
Kejanggalan TKW Lily, Tanda Tangan Dipalsukan hingga Organ Tubuh Diduga Diambil

Kejanggalan TKW Lily, Tanda Tangan Dipalsukan hingga Organ Tubuh Diduga Diambil

Regional
Rektor: Mosi Tidak Percaya pada Jokowi Bukan Sikap Resmi Mahasiswa Unpad

Rektor: Mosi Tidak Percaya pada Jokowi Bukan Sikap Resmi Mahasiswa Unpad

Regional
Pasangan Non Muhrim Dicambuk, Sempat Terhenti karena Kena Leher

Pasangan Non Muhrim Dicambuk, Sempat Terhenti karena Kena Leher

Regional
Dua Tahun Dipaksa Mengemis, Bocah 9 Tahun Dirantai Orangtua Jika Tak Bawa Rp 100 Ribu

Dua Tahun Dipaksa Mengemis, Bocah 9 Tahun Dirantai Orangtua Jika Tak Bawa Rp 100 Ribu

Regional
Ini Motif 3 Pelaku Aniaya Mahasiswa Timor Leste hingga Tewas

Ini Motif 3 Pelaku Aniaya Mahasiswa Timor Leste hingga Tewas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X