Bersepeda Keliling Indonesia, Merah Putih Dilucuti

Kompas.com - 11/12/2011, 10:34 WIB
EditorHery Prasetyo

JAKARTA, KOMPAS.com - Demi obsesi, pasangan suami istri yang sama-sama penderita tuna rungu, Yunara dan Rahma, nekat keliling Indonesia dengan bersepeda. Anak mereka, Fadillah yang baru berumur 4 tahun, ditinggal dan dititipkan ke kakek-neneknya. Sederet kisah, sederet pengalaman, duka, suka, dan rasa takut selama setahun bersepeda, menjadi kenangan dan monumen terindah buat mereka.

Petualangan suami-istri yang tergolong nekat tersebut dimulai di Jakarta pada 11 Agustus 2009 dan berakhir pada 28 Oktober 2010. Kepada Kompas.com, Yunara dan Rahma dengan semangat mengisahkan kembali pengalaman mereka sewaktu keliling Indonesia seperti bulan madu.

Mereka memang tak bisa mendengar, tapi lancar berbicara. Bahkan, kata dan kalimat mereka cukup jelas. Hanya, mereka terkadang kesulitan membaca mimik orang lain. Sehingga, komunikasi sering diselingi dengan bahasa gerak atau tulisan lewat layar di handphone.

"Saya dan istri suka sepeda. Kami punya cita-cita keliling Indonesia. Ada waktu, kami langsung jalan. Kami juga ingin (memberi isyarat dan beberapa kata yang maksudnya menunjukkan bahwa penderita tuna rungu juga bisa berbuat sama seperti orang normal). Kami ingin masyarakat suka sepeda," kata Yunara sebelum berangkat bersepeda dari Jakarta ke Bali yang diawali di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (11/12/2011) pagi. Sayang, percakapatan tak bisa lama karena mereka harus segera bersiap bersepeda.

Wawancara singkat yang banyak diselingi tulisan dan bahasa gerak itu, ternyata cukup menghadirkan banyak kisah. Menurut Yunara, mereka saat itu bersepeda ke Karawang, Bandung, kemudian ke Yogyakarta, dan seterusnya ke Bali, Bima dan terus ke timur.

Yang paling membuatnya berkesan ketika sampai di Papua. Banyak kisah, keindahan, kelucuan, kegetiran, ketakutan, juga keprihatinan yang mereka dapat dan rasakan di Papua.

"Saya ketemu OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Abepura, Jayapura. Mereka ambil bendera (Merah Putih) yang saya bawa di sepeda,  diinjak-injak. Saya disuruh ganti bintang (disuruh ganti memakai bendera Bintang Kejora)," kata Yunara membuka kisahnya tentang Papua.

Saat itu, dia dan istri tak bisa apa-apa. Namun, mereka aman-aman saja dan bisa meneruskan perjalanan. Dari Jayapura, mereka menuju ke Wamena.

"Ini juga perjalanan menakutkan. Saya dicegat orang... dipanah (maksudnya ditodong panah). Mereka minta uang. Saya hanya unya Rp 50 ribu, diminta juga," terang Yunara, sementara istrinya tersenyum dan berbinar-binar, seolah menerawang pengalaman setahun lalu itu.

Yunara dan istrinya mengaku sempat kelaparan, karena kehabisan uang. Namun, beruntung selalu ada orang baik yang menolong mereka, meski hanya memberi ubi rebus. Tapi, itu cukup membantu perjalanan mereka.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X