Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemkot Surabaya Akan Ambil Alih Paksa KBS

Kompas.com - 08/11/2011, 16:14 WIB
EditorKistyarini

SURABAYA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Surabaya akan mengambil alih Kebun Binatang Surabaya (KBS) secara paksa tanpa harus menunggu prosedur perizinan dari Kementerian Kehutanan menyusul banyaknya satwa yang mati akhir-akhir ini.

"Kami akan ambil KBS. Ini lahan milik pemkot," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung saat mendatangi KBS, Selasa (8/11/2011).

Pihaknya akan berkoordinasi dulu dalam musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) untuk menentukan sikap terkait pengambilalihan KBS tersebut dan sekaligus membahas antisipasi pengamanan KBS saat pemkot mengambil alih kepengurusan nanti.

"Rencananya sore ini, kami akan berkoordinasi dengan muspika," ujarnya.

Risma mengatakan, buruknya pengelolaan KBS sekarang ini membuat banyak satwa yang mati. Bahkan seekor komodo betina berumur 20 tahun koleksi di KBS ditemukan mati di kandangnya, Selasa pagi ini. Hingga kini pihak KBS belum memastikan penyebab kematian komodo itu.

Ia juga mengatakan, pihaknya memiliki data mengenai buruknya pengelolaan KBS saat di pegang oleh Tim Pengelola Sementara (TPS) KBS bentukan Kementrian Kehutanan, termasuk data soal jumlah hewan dan tumbuhan yang ada di KBS.

Data-data tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil alih kepengurusan dan pengelolaan KBS.

Tri Risma menjelaskan semenjak dikelola TPS, kondisi KBS kian memprihatinkan terbukti dengan banyaknya satwa yang mati bahkan hilang. KBS memang selama ini menempati lahan Pemkot Surabaya seluas sekitar 15 hektar lebih.

Dengan kepemilikan tersebut, lanjut dia, pemkot seharusnya memiliki KBS dan juga berhak mengelolanya. Namun selama ini, jika pemkot ingin mendatangkan sekaligus melakukan pertukaran satwa, maka harus mendapat izin dari Menteri Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Sebelumnya, Ketua TPS KBS, Tony Sumampau mengaku bahwa selama ini pihaknya sudah menekan angka kematian satwa KBS. Upaya yang dilakukan mulai menuai hasil sebab secara akumulasi, jumlah kematian terus menurun dibandingkan tahun-tahun lalu. Kondisi ini dapat dipantau pada tahun 2006, jumlah satwa yang mati sebanyak 479.

Jumlah ini mengalami penurunan di tahun 2007 yang angka kematiannya 258. Lantas di tahun 2008 naik lagi menjadi 364, kemudian turun lagi di tahun 2009 menjadi 321. Sementara tahun 2010 sampai bulan September 2011, kematian tercatat 162.

"Pokoknya kita akan terus berupaya meminimalisir kematian satwa di KBS," ujarnya.

Menurut dia, kematian yang dialami satwa-satwa karena usia sudah tua, sakit, kelalaian pemantauan dan kondisi kandang tidak sesuai dengan standar kesejahteraan satwa. Persoalan-persoalan yang ada di KBS sedang diinventarisasi, setelah semua terkumpul akan dicari solusi supaya kondisi KBS lebih baik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.