Ketidakpastian Itu Terjawab oleh Kabar Duka

Kompas.com - 01/10/2011, 22:32 WIB
EditorMarcus Suprihadi

KOMPAS.com "Katanya ayah sudah sampai di rumah sakit. Rumah sakit mana? Ayo ke sana," kata Sylvana Aisya (9) sambil terisak, sementara tangannya menarik tangan Herman, pamannya. Kakek, nenek, paman, bibi, dan keluarga Aisya saat itu tenggelam dalam isak tangis.

Aisya adalah anak dari pasangan dr Suhelman (anggota DPRD Kabupaten Aceh Tenggara) dan dr Juli D. Keduanya tewas bersama 16 korban lain yang berada di pesawat CASA 212-200.

Aisya bersama sekitar 50 anggota keluarga korban lainnya yang sejak pagi menungu di posko evakuasi di Bahorok, Langkat, terguncang setelah mendengar kabar bahwa tidak ada penumpang atau awak pesawat yang selamat. Sebagian keluarga korban berteriak menolak kenyataan.

"Keluargaku mati karena kalian tidak segera menolong. Tadi malam aku masih bisa menelepon dia, mengapa sekarang sudah mati," kata Julimar, salah satu keluarga korban, di hadapan petugas.

Mencari sendiri

Para keluarga korban sudah tiga hari ini mendatangi Bahorok, tempat pusat informasi seputar perkembangan jatuhnya pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 1987 itu. Mereka datang dari Medan, Binjai, dan bahkan Aceh Tenggara dengan upaya dan biaya sendiri. Mereka rela tidur di rumah warga di sekitar posko evakuasi agar bisa segera mengetahui kabar terkini.

Setiap pagi, para keluarga korban mencari tahu informasi terbaru dengan mendatangi posko, bertanya kepada tentara, bahkan kepada warga. Sejak hari pertama, informasi keberadaan pesawat belum jelas. Sebagian mengatakan di dekat Desa Lau Sekelem, sementara informasi lainnya mengatakan pesawat berada tak jauh dari Desa Lau Landak.

Sane Sami (51) dan Silwa (4) memutuskan untuk menyewa sepeda motor warga untuk mengetahui langsung keberadaan pesawat. Mereka ingin segera tahu nasib keluarganya yang menumpang CASA 212. Sejam setelah membelah jalan setapak di tengah perkebunan sawit dan karet, mereka menyerah dan kembali ke perkampungan. Cuaca yang buruk membuat mereka patah arang.

Pada hari kedua, ketika belum juga ada kepastian, keluarga Suhelman menempuh jalan serupa. Mereka membentuk tim dengan melibatkan warga setempat sebagai petunjuk jalan. Berbekal informasi yang belum jelas, mereka berjalan menuju perbukitan di tengah hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk menjangkau pesawat CASA yang dipiloti Kapten Famal Ishak itu.

"Lebih baik kami sendiri yang memastikan ketidakjelasan itu daripada bergantung kepada pihak lain," kata Bukhari, keluarga Suhelman. Setelah enam jam berjalan kaki dari siang hingga menjelang gelap, mereka kembali pulang. Bekal mereka habis, sementara kondisi hutan yang dipenuhi lembah dan perbukitan itu tak mungkin dilalui pada malam hari.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.