Derita Bayi Tanpa Anus Ditolak Rumah Sakit

Kompas.com - 26/08/2011, 11:29 WIB
EditorAsep Candra

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Seorang bayi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan. Bayi berusia 23 hari ini lahir tanpa lubang anus. Sang bayi hanya bisa mengeluarkan cairan kotoran dengan cara muntah.

Berharap anaknya bisa sembuh, orangtua bayi malang ini pun membawa anaknya ke rumah sakit umum daerah setempat. Sayangnya, bayi ini ditolak pihak rumah sakit rujukan di Sulbar ini karena alasan sarana dan fasilitas yang tidak tersedia.

Sungguh malang nasib Nurmadina, bayi berusia 23 hari yang terlahir tanpa lubang anus. Akibatnya, anak sulung pasangan Jamaluddin dan Rudiana ini sejak dilahirkan hingga kini tidak pernah buang air besar. Kondisi ini memperburuk kesehatan bayi malang tersebut.

Awalnya, Nurmadina terlahir secara normal. Bahkan, ibunya tidak pernah menyangka kalau bayinya tidak memiliki lubang anus. Hanya saja hingga hari ke-20 sejak ia lahir, Nurmadina tidak pernah sekal ipun buang air besar layaknya bayi normal. Sejak saat itulah, Rudiana baru mengetahui kalau bayinya tidak memiliki lubang anus.

"Saya bingung, anak saya sakit dan tak bisa buang air besar. Setiap hari hanya muntah mengeluarkan cairan kotoran lewat mulut," ujar Rudiana.

Khawatir dengan kondisi Nurmadina yang terus memburuk. Rudiana ditemani sejumlah kerabatnya, hari ini mendatangi rumah sakit rujukan terbesar di Sulawesi Barat untuk memeriksakan kondisi bayinya. Sayangnya, pihak rumah sakit menolak  merawat Nurmadina dengan alasan tidak memiliki alat medis yang cukup. Padahal, rumah sakit Polewali adalah satu satunya rumah sakit rujukan terbesar di Sulawesi Barat.

Dokter spesialis bedah rumah sakit setempat, Ilham Bastiar, mengungkapkan, sedikitnya terdapat tiga tahapan operasi yang harus dijalani Nurmadina untuk dapat hidup normal. Hanya saja, rumah sakit umum daerah Polewali tidak memiliki alat operasi bedah yang lengkap. Sang dokter hanya menyarankan Nurmadina agar segera dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin di Makassar untuk menjalani operasi.

"Kami tidak memiliki sarana operasi untuk menangani Nurmadina. Untuk bisa sembuh total, diperlukan tiga kali tahapan operasi hingga normal" ujar Ilham.

Kondisi Nurmadina dikhawatirkan memburuk jika tidak segera tertolong secepatnya. Untuk sementara, pihak rumah sakit hanya memberikan pertolongan sementara, yakni berupa saluran anus melalui hidung bayi malang tersebut. Orangtua Nurmadina yang  seorang petani dan ibu rumah tangga kecil di Polewali ini hanya bisa pasrah melihat kondisi bayinya.

Jangankan membiayai operasi anaknya yang diperkirakan mencapai belasan juta rupaih. Untuk makan sehari-hari saja, orangtua Nurmadina terkadang harus mengutang ke tetangga.

Kartu Jamkesmas sebagai alat untuk memperoleh pengobatan gratis pun tidak dimiliki keluarga miskin ini. Hingga kini, Nurmadina hanya dirawat orangtuanya dengan pengobatan ala kadarnya di rumahnya di lingkungan Talolo, Kelurahan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar. Rudiana hanya bisa berharap Tuhan menggerakkan hati para dermawan yang berempati dengan kondisi malang yang dialami anaknya agar kelak bisa dioperasi dan bisa tumbuh normal seperti anak-anak lainnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.