"Ini Tanah Saya, Siapa yang Mau Melarang?"

Kompas.com - 21/07/2011, 19:37 WIB
EditorNasru Alam Aziz

KOMPAS.com — Tambang emas rakyat masih berlangsung di beberapa daerah. Di Desa Petak Puti, wilayah di tepi Sungai Kapuas, Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kegiatan menambang emas juga masih jadi salah satu mata pencaharian andalan.

"Lima hari mencari dapat satu drum, itu emasnya dua sampai tiga gram. Saya jual ke Timpah, satu gram Rp 300.000. Hasilnya dibagi, biasanya yang ikut nambang delapan orang," kata Ahmad Ari, warga yang menjadikan tambang sebagai sumber penghasilan utama.

Untuk menambang, Ahmad bersama rekannya memakai ces (perahu dayung) yang agak besar. Penambangan dilakukan di area tepi Sungai Kapuas yang menurut Ahmad merupakan tanahnya. Biasanya, Ahmad berangkat menambang setiap hari sekitar pukul 09.00.

Ahmad menambang sudah sejak lama. "Waktu SMP saya sudah nambang. Setelah lulus SMA, saya nambang terus. Jadi ya sudah tiga tahun benar-benar nambang," tutur pria lajang berusia 21 tahun ini.

Tambang emas rakyat, terutama yang dilakukan dengan merkuri, bisa berdampak buruk bagi lingkungan. Meski begitu, menurut Ahmad, tak ada yang bisa melarangnya melakukan kegiatan menambang. "Ini tanah saya, siapa yang mau melarang?" ujarnya mantap.

Kepala Desa Petak Puti, Yuyo P Dulin, mengemukakan, biasanya yang menambang emas itu mereka yang tidak punya pekerjaan. Menurut Yuyo, jika penambangan harus dihentikan, warga juga harus diberi alternatif mata pencaharian.

Desa Petak Puti adalah wilayah yang menjadi tempat uji coba program REDD+, upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dengan mencegah deforestasi dan degradasi hutan. Program itu adalah hasil kerja sama Indonesia-Australia dan dilakukan oleh Kalimantan Forest Climate Partnership (KFCP).

Masih berlangsungnya penambangan emas di Petak Puti menggambarkan bahwa masih banyak masalah lingkungan yang harus diselesaikan. Ketika REDD+ dicanangkan, termasuk perhitungan dan perdagangan karbon yang rumit, masih ada hal mendasar yang perlu diupayakan, yaitu kesadaran manusia bahwa beberapa aktivitasnya berpotensi merusak alam.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.