Penggunaan Pestisida Berisiko Merusak

Kompas.com - 17/04/2011, 11:21 WIB
EditorTri Wahono

SURABAYA, KOMPAS.com - Langkah sementara pemerintah dalam memberantas ulat bulu dengan menggunakan pestisida dikecam oleh sejumlah pakar lingkungan. Menurut mereka penggunaan pestisida potensial merusak biota lainnya serta memutus rantai makanan.

Guru Besar Riset Operasi dan Optimasi Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Daniel Rosyid, Minggu (17/4/2011) mengatakan, penggunaan pestisida dalam memberantas ulat bulu adalah kebiasaan lama sejak revolusi hijau pada tahun 70-an. Cara tersebut saat ini dinilai tidak relevan lagi dilakukan petani dan harus ditinggalkan secara perlahan.

"Pembasmian hama era sekarang harus menggunakan pendekatan cara yang ramah lingkungan dan bersifat organik," katanya. Selain itu, pengunaan pestisida secara tidak langsung juga akan mematikan biota dan ekosistem yang sebenarnya menguntungkan bagi keseimbangan alam.

Jika sudah demikian, secara otomatis, susunan rantai makanan akan terputus. Pemberantasan ulat bulu yang baik, menurutnya, memang tidak dapat dilakukan dengan cara instan, namun memerlukan proses alami yang cukup panjang. Cara alami yang harus dilakukan yakni mencari predator alami ulat bulu sampai ketemu, mengembangkan kawasan konservasi burung sebagai predator alami ulat bulu, serta mengurangi konsumsi makanan aneh oleh manusia.

"Karena seringkali manusia sebagai predator mengkonsumsi makanan yang bukan 'jatahnya'. Kebiasaan ini juga berpotensi memutus rantai makanan alami," ujar Mantan Ketua Dewan Pakar Pemprov Jatim ini. Misalnya, berburu burung-burung yang seharusnya menjadi predator.

Sementara itu, pakar lingkungan hidup Universitas Airlangga Surabaya, Suparto Wijoyo, mengkhawatirkan bahan pestisida yang disemprotkan tidak lagi mematikan ulat bulu. Pestisida adalah bahan bahan kimia yang yang tidak asing lagi bagi tubuh ulat bulu karena sudah seringkali digunakan petani sejak 30 tahun terakhir tepatnya saat dimulainya revolusi hijau.

"Saya khawatir penggunaan pestisida justru menambah kekebalan tubuh ulat bulu," ujarnya. Staf Ahli Menteri Negara Lingkungan Hidup ini mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan merebaknya ulat bulu itu sebagai potensi industri yang harus dimanfaatkan dan dikembangkan untuk memajukan perekonomian petani.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa jenis ulat bulu ternyata bisa diolah menjadi makanan. Jika petani diberi penyuluhan cara memilih ulat yang bermanfaat, hama tersebut malah menjadi sumber protein yang bergizi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X