Kembangkan 3 Goa Purba di Konawe Utara

Kompas.com - 21/03/2011, 07:03 WIB
Editoryuli

KONAWE UTARA, KOMPAS.com — Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, merencanakan pengembangan goa-goa purba di wilayahnya sebagai obyek wisata.

Selain berfungsi melestarikan warisan arkeologis, pengembangan wisata diharapkan bisa menggerakkan ekonomi salah satu daerah tertinggal di Sulawesi Tenggara tersebut.  

"Saat ini kami merumuskan proposal pengembangan goa-goa prasejarah di Konawe Utara ini," kata Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Konawe Utara Nasruddin, Minggu (20/3/2011).

Di antara konsep yang telah disiapkan adalah wisata minat khusus, seperti penulusuran goa, panjat tebing goa, atau aktivitas jelajah alam lainnya.

Dari pendataan awal Disbudpar, terdapat setidaknya tiga situs goa prasejarah yang bisa dikembangkan, yakni situs Tondowatu di Kecamatan Motui, situs Linomoyo di Kecamatan Asera, dan situs Wawontoaho di Kecamatan Wiwirano.

Ketiga situs itu diperkirakan berusia 40.000-10.000 tahun. Di antara peninggalan prasejarah yang terkandung seperti fragmen kerang, alat-alat serpih batu dan gamping, beliung, guci, serta berbagai fragmen benda berbahan gerabah.

Di situs Wawontoaho, atau yang dikenal dengan goa tengkorak, juga menjadi tempat penguburan kuno suku Culambacu, salah satu suku asli Sultra yang mendiami wilayah itu sejak ribuan tahun lalu.

Saat Kompas berkunjung pekan lalu, masih bisa ditemukan pecahan gerabah, guci, mangkok, keramik berukir, lesung kayu, dan kaki patung di goa tersebut.

Terkait pelestarian dan perlindungan terhadap goa-goa itu, Nasruddin mengatakan, pihaknya akan berupaya mengumpulkan dan menyimpan peninggalan-peninggalan penting dalam museum. "Nantinya, pemkab juga akan menempatkan petugas untuk menjaga goa-goa tersebut," ujarnya.

Namun, upaya pengembangan itu terbentur masalah klasik, yakni anggaran. " Karena itu, kami memerlukan dukungan pemerintah provinsi atau bahkan pemerintah pusat untuk mewujudkannya," ujar Nasruddin.

Berdasarkan penuturan tetua adat Culambacu, Laende (72), dulunya banyak sekali benda-benda peninggalan bersejarah di situs Wawontoaho, seperti perhiasan, guci, keramik, patung, dan senjata logam tradisional. Benda-benda itu menjadi semacam bekal kubur bagi jenazah yang dimakamkan di dalam goa pada masa nenek moyang Culambacu.

Namun, sekitar dekade 1980-an, banyak orang yang menjarah isi goa dan mengambil barang-barang tersebut untuk dijual. "Pemerintah harus cepat mengambil langkah untuk melindungi warisan sejarah itu," kata Laende.

Ia menambahkan, areal sekitar goa juga seharusnya disterilkan dari aktivitas perkebunan sawit yang saat ini mengelilinginya. Laende khawatir keberadaan kebun sawit akan semakin merusak warisan sejarah tersebut. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.