'Dengo-dengo', Ajakan Makan Sahur - Kompas.com

'Dengo-dengo', Ajakan Makan Sahur

Kompas.com - 19/08/2010, 11:02 WIB

MOROWALI, KOMPAS.com — Masyarakat Kota Bungku, ibu kota Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, memiliki tradisi yang mereka sebut dengo-dengo. Ini adalah tradisi untuk membangunkan umat Islam melaksanakan sahur dan shalat subuh selama bulan Ramadhan.      Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter, terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, menggunakan lantai papan ukuran 3 x 3 meter persegi, dan beratap daun sagu. Bangunan ini didirikan dengan cara gotong royong oleh waga menjelang 1 Ramadhan.      Bambang (42), warga Kelurahan Marsaoleh, Bungku Tengah, saat dihubungi dari Poso, Kamis, mengemukakan, bangunan itu dilengkapi dengan sebuah gong, gendang, dan rebana serta ditunggui sekitar delapan warga. Hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah dengo-dengo ini.      "Pada saat menjelang waktu sahur, para penjaga dengo-dengo itu menabuh gong dan gendang serta rebana sehingga warga akan terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan sahur," ujarnya.      "Setiap malam, dengo-dengo dibanjiri warga seusai shalat tarawih," ujar Bambang lagi.      Menurut dia, dengo-dengo sudah hadir di Bungku sejak awal masuknya Islam sekitar abad ke-17 untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari.      Pembangunan dengo-dengo yang dalam bahasa Indonesia berarti "tempat beristirahat" ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 500.000 untuk setiap bangunan.      "Kami membangun ini dengan sukarela untuk mempertahankan tradisi di sini," kata Ahyar, salah seorang warga lainya. Ia juga mengatakan bahwa mereka mengambil sendiri bahan baku untuk membangun dengo-dengo.      Pada petang hari, dengo-dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu berbuka puasa. Itu sebabnya, dengo-dengo ini selalu ramai dengan kunjungan warga.      Sementara itu, untuk membangunkan warga yang akan melaksanakan ibadah puasa pada dini hari, sejumlah warga, umumnya para pemuda, mulai berkumpul di dengo-dengo sekitar pukul 01.30 waktu setempat.      Hampir setiap sudut jalan berdiri bangunan tinggi yang akan dibongkar seusai Ramadhan ini. Salah satu tempat yang hampir pasti menjadi lokasi berdirinya dengo-dengo adalah masjid. Hampir semua masjid di Morowali terdapat bangunan yang dilengkapi dengan berbagai lampu hias yang dipasang mengelilingi dinding bangunan sehingga terlihat meriah dari kejauhan.      Berbeda warga di daerah lain yang seusai salat subuh melakukan konvoi kendaraan bermotor di jalan-jalan dan memenuhi tempat hiburan, seperti pantai, masyarakat di Bungku memilih berkumpul di sekitar dengo-dengo untuk merencakan kegiatan dan membagi giliran tugas membangunkan warga untuk sahur berikutnya di dengo-dengo.      Bangunan ini diklaim oleh warga Kota Bungku sebagai tradisi bulan Ramadhan dan merupakan satu-satunya di Sulawesi Tengah.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorIgnatius Sawabi

    Close Ads X