Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bribin Tak Fungsi, Tunggu APBN

Kompas.com - 06/04/2010, 12:29 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS - Pascaserah terima dari Jerman ke Indonesia pertengahan Maret 2010, Proyek Bribin II terkendala. Atap bendung goa bawah tanah dengan porositas tinggi mengalirkan rembesan air di tujuh titik. Akibatnya, pengangkatan air ke permukaan terhambat.

Menurut Wakil Tim Universitas Karlsruhe Jerman untuk Proyek Bribin II Solichin, proses penyuntikan atau injeksi semen untuk menutup rembesan air menunggu kucuran dana APBN. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 250 juta yang baru akan cair bulan Juni mendatang.

"Harus mencari kontraktor yang mau bekerja tanpa bayaran di muka," kata Solichin, Senin (5/4).

Bagaimanapun, rembesan air di atap bendung harus segera diinjeksi semen. Tanpa itu, elevasi air di bendung Goa Bribin hanya 10 meter dari batas ideal 15 meter.

Akibatnya, air sulit terpompa hingga ketinggian 246 meter dengan debit maksimal 80 liter per detik. Adapun proses injeksi semen butuh waktu sekitar dua pekan.

Selama belum diinjeksi, air sungai bawah tanah Goa Bribin dibiarkan mengalir tanpa dibendung. Hal itu dilakukan sejak dua hari setelah diresmikan. Hingga kini air belum dibendung lagi.

Lift mati

Kendala teknis lain yakni operasionalisasi lift pengangkut dari permukaan tanah menuju bendung goa bawah tanah sekitar 100 meter macet. Lift sempat mati empat hari karena generator set tersambar petir.

Meskipun pengelolaan Proyek Bribin II telah diserahkan ke Pemerintah Indonesia, peneliti Jerman masih terlibat memelihara dan menyempurnakan bendung sungai bawah tanah pertama di dunia itu.

Hardjono dari Satuan Kerja Pengembangan Air Minum DI Yogyakarta menyatakan, pemeliharaan Proyek Bribin II seharusnya di bawah pemerintah pusat karena seluruh instalasi telah terbangun. PDAM diharapkan segera membangun jaringan perpipaan hingga rumah penduduk.

Sambil menunggu perbaikan teknis Proyek Bribin II, warga mengandalkan pemenuhan air dari Proyek Bribin I yang masih menggunakan genset.

"Semoga Bribin II bisa optimal pada musim kemarau nanti. Masih banyak pipa yang belum tersambung ke rumah penduduk," kata Camat Semanu Suhardi.

Bila beroperasi normal, Bribin II dapat mencukupi kebutuhan air bagi puluhan ribu warga.

Selepas Bribin, tim peneliti Jerman akan melanjutkan pengangkatan air sungai bawah tanah di Goa Seropan, Gunung Kidul. Pengelolaan air di sana baru dimulai tahun 2011 karena terkendala dana pihak Indonesia. (WKM)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com