Kondisi Tukik di TWA Tanjung Belimbing Memprihatinkan

Kompas.com - 04/08/2009, 05:31 WIB
Editor

Pontianak, Kompas - Selain persoalan yang muncul bahwa Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Kalimantan Barat, dibiayai dari penjualan ribuan telur penyu, kondisi penangkaran tukik di sana juga ternyata memprihatinkan. Pengelolaan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi mengakibatkan setiap hari sebagian besar tukik mati.

”Dari 25 telur yang ditangkarkan, paling-paling hanya dua butir yang menetas. Itu pun belum tentu bisa bertahan selama pembesaran. Padahal tiap hari diberi pakan dua kali dan airnya diganti,” kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam Kecamatan Paloh Furqon yang membawahi Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Senin (3/8).

Saat ini diperkirakan ada sekitar 500 ekor tukik yang dipelihara di kolam pembesaran TWA Tanjung Belimbing. Pemantauan Kompas, Sabtu (1/8), menunjukkan, ada tiga jenis tukik yang dipelihara di sana, yakni dari jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), serta penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Di kolam pembesaran tersebut sedikitnya ada empat tukik yang mati dan mengapung di permukaan air.

Data pelaporan Resor Konservasi Sumber Daya Alam Paloh mengenai penetasan telur, dari sekitar 5.000 telur yang ditetaskan pada Januari-April 2009, ternyata hanya 10 butir telur yang menetas. Selebihnya telur-telur itu membusuk dan terpaksa dibuang.

Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat Dwi Suprapti menilai, lokasi tempat penetasan telur yang jauh dari tepi pantai turut memengaruhi kegagalan penetasan telur penyu.

Banyak bakteri

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di lokasi itu kemungkinan besar terdapat banyak bakteri yang bisa membusukkan telur penyu. Selain itu, suhu di sana juga diperkirakan tidak memenuhi standar ideal penetasan telur penyu yang berkisar 20 derajat hingga 30 derajat sehingga banyak embrio penyu yang mati.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Singkawang, yang membawahi TWA Tanjung Belimbing, Junaidi mengungkapkan, idealnya memang telur penyu itu dibiarkan di habitat aslinya dan tidak dipindahkan.

Pemindahan yang dilakukan petugasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan telur dari perburuan liar. Adapun pembesaran dilakukan agar tukik terlindungi dari predatornya di alam.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.