Dukun Sakti Berjimat Batu Ajaib

Kompas.com - 03/02/2009, 07:13 WIB
Editor

JOMBANG —— Meski antrean ribuan pasiennya telah menelan dua korban jiwa, Muhammad Ponari (10)——dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Balongsari, Megaluh, Jombang, Kabupaten Jombang——tetap akan buka praktik. Dia juga menolak niat polisi memindahkan tempat praktik dari rumah orangtuanya.

Menurut Kapolres Jombang AKBP Moh Khosim, sebenarnya dia ingin pengobatan segera bisa dilakukan lagi dengam memindahkan lokasi pengobatan ke balai desa setempat. Namun, katanya, Ponari menolak.

“Dengan dipindahkannya lokasi pengobatan ke balai desa,  aliran kendaraan masuk dan keluar dusun bisa diatur lebih lancar, tapi Ponari menolak,” kata Kapolres.

Seperti diberitakan, sejak sekitar dua pekan terakhir ribuan orang berbondong-bondong mendatangi dukun cilik tersebut, yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Antrean mengharap kesaktian dukun tiban ini akhirnya merenggut nyawa Rumiadi (58), warga Kediri, dan Nurul Niftadi (42), warga Jombang.

Keberadaan Ponari sebagai dukun sakti mulai terdengar sejak sekitar dua pekan lalu. Ini setelah bocah kelas III SD tersebut menemukan batu sekepalan tangan saat disambar geledek sewaktu bermain di bawah hujan lebat sekitar tiga pekan lalu.

Batu ajaib itu kemudian dipakai untuk mengobati. Caranya, batu dimasukkan ke dalam segelas air putih, kemudian airnya diminumkan kepada orang yang sakit. Karena kesaktian batu milik Ponari itulah, banyak orang datang berobat. Sampai kemudian dua pasien tewas karena kecapaian mengantre lama. Polisi pun menutup sementara praktik Ponari (Surya, 2/2).

Penutupan sementara tempat praktik dukun cilik ini membuat kecewa ribuan pengunjung, Senin (2/2). Para pasien yang tidak tahu adanya penutupan sementara tersebut berdatangan ke Dusun Kedungsari sejak pagi buta.
Namun, massa pengunjung yang sebagian besar berasal dari luar kota akhirnya gigit jari. Begitu hendak masuk gang utama menuju ke rumah Ponari, mereka dicegat sejumlah pemuda yang mengaku panitia pengobatan Ponari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemuda-pemuda itu mencegah pengunjung masuk dengan alasan ujung gang masih diperbaiki memakai paving sehingga pengobatan untuk sementara dihentikan. “Kalau perbaikan sudah selesai, pengobatan akan dilakukan lagi,” kata Wanto, salah satu panitia.

Wanto kemudian memberikan nomor ponselnya untuk dihubungi pengunjung yang nanti ingin meminta informasi tentang kepastian apakah Ponari sudah praktik lagi. Para pasien yang hendak berobat akhirnya hanya memperoleh nomor ponsel Wanto.

Muhajir, warga Nganjuk, mengaku kecewa tidak bisa berobat. “Jauh-jauh dari Nganjuk saya bermaksud mengobatkan ibu saya yang sudah bertahun-tahun sakit asma,” kata Muhajir yang berniat akan datang lagi jika Ponari sudah kembali membuka praktik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.