Waterproofing untuk Lantai Kamar Mandi

Kompas.com - 15/10/2008, 02:46 WIB
Editor
Sebagai bagian rumah yang selalu basah, kamar mandi berpotensi menimbulkan masalah seperti dinding lembab dan berjamur atau flek pada plafon. Sebelum terlanjur, cegah masalah ini dengan waterproofing.
 
Air yang merembes pada bangunan mengakibatkan kelembaban yang pada ujungnya menimbulkan jamur, flek, bahkan kerusakan yang lebih parah pada bangunan. Untuk mencegah terjadinya hal seperti ini, Anda bisa menggunakan waterproofing (pelapis anti bocor) yang berguna mencegah air masuk ke dalam bangunan. Saat ini bagian rumah yang banyak dilapisi waterproofing adalah dinding luar rumah yang terkena panas dan hujan. Namun, di dalam rumah masih banyak bagian-bagian yang sebaiknya dilindungi material yang satu ini. Kamar mandi, adalah salah satunya.
 
Pelapis Anti Bocor
Sebenarnya, yang disebut waterproofing adalah sejenis cat yang anti bocor. Menurut Dewi Aledja (PT Shell Indonesia), yang akrab disapa Kiki, bahan ini mencegah penetrasi air pada bangunan yang menyebabkan kelembaban. Karena itu, waterproofing biasanya dipasang pada tempat-tempat yang rawan terjadi rembesan air, seperti pada dinding luar rumah, karpusan, talang air, dak beton, serta kamar mandi.
 
Waterproofing berbahan dasar bitumen, atau yang sering disebut dengan aspal,” jelas Kiki. Dengan teknik tertentu, bitumen ini digunakan dalam keadaan dingin agar ia memiliki daya lekat lebih kuat. Bitumen ini kemudian dilarutkan dengan bahan kimia khusus atau air. “Bahan pelarut yang terbuat dari bahan kimia tidak ramah lingkungan. Selain itu, orang dapat merasa pusing akibat bahan kimia tersebut,” ungkap Kiki. Karena itu, menurut Kiki sebaiknya pilihlah bahan pelarut yang terbuat dari air.
 
Waterproofing terbagi atas dua jenis, yaitu waterproofing untuk dalam-ruang dan waterproofing untuk luar-ruang. Jenis dalam- ruang harganya lebih ekonomis karena tugasnya tidak seberat yang untuk luar-ruang. Waterproofing dalam-ruang ini antara lain digunakan pada dinding serta lantai kamar mandi.
 
Waterproofing luar-ruang lebih tahan terhadap perubahan cuaca seperti sinar matahari dan hujan. Biasanya, yang menggunakan waterproofing jenis ini adalah bagian-bagian yang berhubungan dengan luar rumah seperti karpusan, talang, dan dinding rumah bagian luar. 
 
Kamar Mandi Sumber Bocor
Di dalam kamar mandi, masalah yang paling sering terjadi adalah merembesnya air ke dalam dinding atau lantai. Apalagi, kebanyakan kamar mandi di Indonesia adalah kamar mandi basah, sehingga air sering menggenang dalam waktu cukup lama. Air yang merembes tadi menjadi masalah apabila rembesannya sampai ke dinding di luar kamar mandi. Yang lebih parah lagi, kalau kamar mandi terletak di lantai 2, air yang masuk ke lantai bisa merembes ke plafon lantai di bawahnya. Akibatnya, dinding dan plafon menjadi lembab dan timbul bercak-bercak serta ditumbuhi jamur. Tentu ini sangat mengganggu pemandangan.
 
Untuk mencegah timbulnya masalah tersebut, harus ada yang menghalangi masuknya air ke dalam lantai atau dinding kamar mandi. Bahan yang bisa memblokir air tersebut adalah waterproofing. “Untuk lantai kamar mandi, bahan pelapis ini dipasang di bawah acian semen yang digunakan untuk menempelkan ubin serta pada muara pipa pembuangan di lantai (floor drain),” ujar Kiki. “Sementara itu, pada dinding kamar mandi yang perlu dilapisi waterproofing adalah dinding sekitar jalur pipa-pipa air. Ini dilakukan untuk mencegah merembesnya air apabila terjadi kebocoran”, jelasnya.
 
“Dianyam” Agar Kuat
Lantai kamar mandi di lantai atas merupakan area yang perlu dilapisi waterproofing. Cara pelapisannya harus diperhatikan agar waterproofing dapat melindungi secara optimal. Berdasarkan urutannya, pemasangan waterproofing pada lantai adalah sebagai berikut.
1.   Pada lantai beton, yang pertama kali disapukan adalah lapisan primer. Lapisan ini merupakan campuran antara waterproofing dengan air, dengan perbandingan 1:1. Campuran disapukan pada lantai beton secara searah menggunakan kuas atau roller.
2.   Setelah lapisan primer pertama kering (sekitar 4 jam), barulah lapisan waterproofing tanpa campuran disapukan di atasnya. Cara mengecek apakan lapisan pertama sudah kering atau belum adalah dengan menyentuhkan ujung jari ke permukaan waterproofing. Jika tidak ada bahan yang menempel pada ujung jari Anda, berarti lapisan tersebut sudah kering.
3.   Lapisan ketiga sama sengan lapisan pertama, yaitu campuran antara air dengan waterproofing, dengan perbandingan 1:1. Namun, lapisan ketiga ini harus disapukan dengan arah yang berbeda dengan lapisan kedua. Jika lapisan kedua horizontal, lapisan ketiga ini harus vertikal, dan sebaliknya. Ini dilakukan agar lapisan-lapisan tersebut membentuk “anyaman” yang kuat.
4.   Sebelum lapisan ketiga kering benar, taburkan pasir di atasnya. Pasir ini berguna untuk mengikat acian agar lebih kuat melekat. Selanjutnya, di atas lapisan setebal kira-kira 2 ml ini dipasang ubin seperti biasa dengan menggunakan acian.
 
Pelapisan waterproofing di atas juga bisa diterapkan untuk mencegah munculnya air dari dalam tanah melalui lantai. (sca/www.tabloidrumah.com)
 
KETERANGAN BAHAN
Nama: waterproofing, cat anti bocor
Fungsi: mencegah penetrasi air pada bangunan
Ukuran: dalam liter
Harga:
Rp 17.500 (1 l)
Rp 56.000 (3,5 l)
Rp 261.000 (18 l atau 1 pail)
 
Keunggulan:
 - dapat digunakan di dalam dan di luar bangunan
 - pilihan warna beragam
- aplikasi mudah
- ramah lingkungan (berbahan dasar air)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X