Selasa, 25 November 2014

News / Regional

Peringati May Day, Buruh Gendong Bagi Bunga

Selasa, 30 April 2013 | 12:50 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan buruh gendong dari sejumlah pasar tradisional di DI Yogyakarta berkumpul di Pasar Beringharjo, Selasa (30/4/2013), membagikan bunga kepada para pedagang dan pengunjung pasar tersebut untuk menyambut Hari Buruh Sedunia.

"Kami melakukan aksi simpatik memberikan bunga, sehingga masyarakat pun mengetahui dan melihat sendiri bahwa mereka juga perlu dihargai," kata koordinator aksi yang juga Direktur Yayasan Annisa Swasti (Yashanti) Amin Muftiana di Yogyakarta, Selasa.

Dengan aksi itu, mereka berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap nasib buruh gendong. "Buruh gendong memiliki jam kerja hingga 24 jam, bahkan ada yang sampai tidur di pasar, melaju dari luar kota atau kos di sekitar pasar," katanya.

Selama ini, Amin menambahkan, belum ada upah pasti untuk buruh gendong serta belum adanya perlindungan keamanan kerja dari pemberi jasa.

Oleh karena kondisi tersebut, melalui aksi simpatik yang sekaligus dilakukan untuk memperingati Hari Kartini, para buruh gendong berharap adanya upah layak, hak cuti haid, melahirkan, keguguran, hak atas tempat kerja yang nyaman dan aman.

Mereka juga mengharapkan adanya kebijakan Pemerintah DI Yogyakarta untuk melindungi buruh gendong dan menolak diskriminasi terhadap mereka.

Berdasarkan data, jumlah buruh gendong di pasar tradisional pada lima tahun lalu mencapai sekitar 750 orang dan profesi tersebut biasanya diperoleh secara turun-temurun.

Salah seorang buruh gendong yang mengikuti kegiatan tersebut, Sukiyem, mengaku telah bekerja selama 40 tahun di Pasar Beringharjo dengan penghasilan rata-rata Rp 30.000 per hari atau Rp 40.000 per hari saat pasar sedang ramai.

"Sekali angkat, memperoleh upah Rp 2.000 hingga Rp 2.500. Kadang-kadang harus mengangkat beban hingga 50 kilogram," katanya.

Warga Sentolo, Kulon Progo tersebut bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB per hari, tanpa ada hari libur. "Saya baru libur kalau memang benar-benar ada keperluan atau saat sakit," katanya yang harus melaju tiap hari.

Buruh gendong lain, Mbah Giah (70), juga mengatakan, sudah bekerja selama 40 tahun. "Rata-rata penghasilan Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per hari," katanya. Dia berharap bisa terus memperoleh penghasilan yang lebih baik.


Editor : Kistyarini
Sumber: