Selasa, 30 September 2014

News / Regional

Dugaan Bunuh Diri

Polisi Jepara Dalami Kasus Pelajar Bunuh Diri

Minggu, 28 April 2013 | 17:04 WIB

JEPARA, KOMPAS.com - Kapolres Jepara, Ajun Komisaris Besar Bakharuddin, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami motif bunuh diri yang dilakukan pelajar salah satu madrasah tsanawiyah (MTs) swasta di daerah itu.

Polisi masih mendalami motif bunuh diri tersebut, karena di lokasi bunuh diri tidak ditemukan pesan kepada pihak keluarga.

Demikian kapolres melalui Kapolsek Nalumsari, Ajun Komisaris I Nyoman Garma, di Jepara, Jawa Tengah, Minggu (28/4/2013). Meninggalnya korban, untuk sementara dinilai murni bunuh diri. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban.

Roikhatul Jannah (16), siswi salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta di Kabupaten Jepara, diduga mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, setelah mengikuti ujian nasional (UN).

Menurut Giran (45), orang tua Roikhatul, saat ditemui di rumahnya di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, peristiwa gantung diri anaknya yang masih duduk di kelas IX MTs Nurul Ilmi Nalumsari, diketahui Sabtu (27/4/2013) pukul 17.00 WIB.

Sebelum berangkat kerja, dia menganggap, anaknya yang berseragam sekolah memang hendak berangkat ke sekolah. Hanya saja, dia curiga, ketika pulang kerja, rumah dalam kondisi terkunci dan gorden tertutup rapat. "Saya mencoba masuk melalui atap kamar mandi," ujarnya.

Saat menuju ruang tengah, dia terkejut, karena anaknya yang masih berseragam dalam kondisi menggantung di kusen pintu. Ia mengaku, tidak mengetahui permasalahan yang dialami anak ketiga dari tiga bersaudara itu.

"Usai UN, saya memang sempat bertanya hasilnya. Hanya saja, nilai UN belum keluar," ujarnya.

Saripan, kakak Roikhatul, menduga, adiknya tidak berniat masuk sekolah, karena informasi dari temannya tidak ada di sekolah.

Adiknya itu, kata dia, cukup pendiam dan jarang berkomunikasi, sehingga tidak ada yang mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi. Hanya saja, pelaku pernah meminta telepon genggam, namun tidak diizinkan karena dikhawatirkan mengganggu konsentrasi belajar.

Pelaku tinggal di rumah bersama ayahnya, sedangkan ibunya, Suntari serta kakak keduanya, Nur Asiyah bekerja di Arab Saudi sejak dua tahun lalu. Saripan menempati rumah sendiri bersama anak dan istrinya, tak jauh dari rumah orang tuanya.

Jasad Roikhatul dimakamkan pada Minggu (28/4) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kepala MTs Nurul Ilmi, Saifudin Zuhri, mengaku terkejut dengan informasi meninggalnya Roikhatul dengan cara gantung diri. "Sosok Roikhatul di sekolah memang dikenal pendiam dan jarang bergaul," ujarnya.

Seharusnya, kata dia, pada Sabtu (27/4/2013) itu dia mengikuti ujian "nahwu shorof" setelah proses UN selesai.


Sumber: Antara

 


Editor : Agus Mulyadi