Rabu, 23 April 2014

News / Regional

Pembunuh Itu Ditangkap Berdasarkan Tulisan Darah Korban

Rabu, 17 April 2013 | 18:39 WIB

Baca juga

KENDARI, KOMPAS.com — Kepolisian berhasil menangkap Imsak (23), pelaku pembunuhan tiga orang keluarga di Jalan Bunga Kamboja, Kendari, Sulawesi Tenggara, berdasarkan petunjuk tulisan darah korban, Labojo Basri, di lantai rumahnya.

Kepala Satuan (Kasat) Reserse dan Kriminal Polresta Kendari AKP Rofikoh Yunianto mengatakan, petunjuk yang digunakan untuk mengungkap pelaku pembunuhan ialah tulisan yang ada di lantai, tepatnya di samping korban.

"Kami menelusuri bukti-bukti yang ada di tempat kejadian perkara, salah satunya yakni tulisan 'Kendari Caddi, Anak Mariam' yang ditulis dengan menggunakan darah korban (Labojo Basri)," terang Rofikoh di kantornya, Rabu (17/4/2013).

Belakangan diketahui, pelaku pembunuhan adalah Imsak yang berdomisili di Jalan RA Kartini, Kelurahan Kendari Caddi, Kecamatan Kendari, Kota Kendari. Sementara ibu pelaku, yang bernama Mariam, masih kerabat dekat dengan korban (Labojo Basri).

"Kami kumpulkan beberapa informasi. Bahkan, kami sempat mendapatkan gambarannya di TKP. Selain tulisan yang menjadi petunjuk kami, jaket dan tas korban membuat dugaan kami (ke arah Imsak, red) semakin menguat," ujarnya.

Menurut Rofikoh, Imsak datang ke rumah korban dengan tujuan meminta uang sebesar Rp 50.000. Sempat terjadi adu mulut dengan istri korban, Haslia, sehingga pelaku menghabisi nyawanya.

"Sebelumnya, pelaku meminta makan dan korban memberikan uang Rp 5.000 untuk membeli Indomie. Tak terima, pelaku kemudian kalap dan menuju ke dapur untuk mengambil pisau, kemudian menusuk korban," tambahnya.

Lebih lanjut, Rofikoh mengatakan, pelaku merupakan residivis curanmor yang terjadi pada tahun 2010 lalu. "Pelaku ini juga residivis curanmor dan telah ditangkap di Polsek Kota, yang sekarang Polsek Kandai," katanya.

Awalnya, kepolisian mencurigai Wahyudin, yang merupakan anak pasangan Labojo Basri dan Haslia dan ayah kandung Faisal, sebagai pembunuh kedua orangtua dan anak kandungnya itu. Namun, saat kejadian, Wahyudin sedang tertidur di kos yang tidak jauh dari rumahnya.

"Awalnya, kami mengamankan Wahyudin di salah satu kos dekat rumahnya, lalu kami mintai keterangannya di polres. Ia belum tahu kalau ada pembunuhan terhadap kedua orangtua dan anak kandungnya. Tapi, setelah meringkus pelakunya (Imsak), baru Wahyudin kami beri tahu soal pembunuhan itu dan ia histeris," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, terjadi pembunuhan tiga orang anggota keluarga, yakni pasangan Labojo Basri (60), Haslia (59), dan cucunya, Faisal (7), pukul 14.30 Wita, Selasa (16/4/2013). Semula, polisi menyebut Wahyudin, yang merupakan anak pasangan Labojo Basri dan Haslia dan ayah kandung Faisal, sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Namun, ternyata, informasi yang dihimpun polisi keliru. Pasalnya, kesaksian yang dikumpulkan berasal dari Husein, anak Basri, yang belakangan diketahui mengalami kelainan jiwa.

"Kemarin polisi baru mendapatkan keterangan dari Husein yang merupakan anak korban. Ternyata, Husein itu pernah mengidap kelainan jiwa dan sempat dirawat di rumah sakit jiwa sebanyak empat kali," tutup Rofiqoh.


Penulis: Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati
Editor : Farid Assifa