Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Merapi Resiliency, Gerakan Pengurangan Risiko Bencana Didirikan

Kamis, 21 Maret 2013 | 18:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah kalangan yang merupakan tokoh masyarakat sipil, kalangan perguruan tinggi, perwakilan pemerintah, dan perwakilan perusahaan sepakat mendirikan konsorsium bernama Merapi Resiliency (MR).

MR merupakan gerakan bersama pengurangan risiko bencana Gunung Merapi didirikan. Sabastian Saragih Livelihood Coordinator for Merapi Programme Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Kamis (21/3/2013) di Jakarta mengatakan, MR sebagai sebuah gerakan bertujuan mempromosikan pendekatan pengurangan risiko bencana Gunung Merapi.

Berbagai kalangan yang dipercaya membidangi terbentuknya MR adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas (Tokoh Masyarakat), Felia Salim (Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Anggito Abimanyu (Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama), Rizal Malik (Tokoh LSM), Meth Kusumohadi (Tokoh LSM).

Tony Prasetiantono (Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah)Siddharta Moersjid (Direktur/CAO PT Bakrie and Brothers), Sonny Sukada (Direktur Sustainable Development PT Aqua Danone). Juga Deborah A. Rosen Vice President, Chief Legal Officer and Secretary, Sofia Koswara dari World Peace Movement, Heru Hardono dari PT Energi Mega Persada, Erika dari PT United Tractors, Ibnu Nurzaman dari PT Medco Power.

Mereka juga mengundang semua kalangan yang peduli dengan pengurangan risiko bencana Gunung Merapi untuk bergabung. "Rapat pertama pendirian MR direncanakan 6 April 2013," katanya.

Merapi adalah gunung berapi teraktif di Indonesia yang terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Berada di tengah-tengah pemukiman berpenduduk padat. Gunung Merapi disamping menjadi ancaman juga menjadi peluang bagi masyarakat untuk membangun penghidupannya.

Merapi secara regular mengalami erupsi yang dapat melahirkan bencana. Namun di masa tenangnya Merapi adalah sumber penghidupan penting bagi masyarakat di sekitarnya yang hidup dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, parawisata, dsbnya.

Sayangnya ketika masa tenang datang orang suka lupa kalau Merapi mengalami konstraksi dan secara regular harus mengeluarkan laharnya, sehingga lupa membangun sistem yang dapat mengurangi risiko bencana menimpa sistem penghidupannya.

Melihat risiko terjadinya bencana di Merapi adalah sangat besar, maka upaya untuk pengurangan risiko bencana perlu dilakukan secara sistematis dan integratif menggandeng semua kekuatan yang ada di sekitar Merapi. "Atas dasar itu konsorisum untuk pengurangan risiko bencana dengan nama Merapi Resiliency (disingkat MR) ini didirikan," katanya.

Nama Merapi digunakan karena konsorsium ini dimulai di Merapi. Namun kata Merapi juga digunakan oleh konsorsium sebagai simbol atau perwakilan dari semua wilayah-wilayah yang memiliki risiko bencana periodik tinggi misalnya akibat banjir, kekeringan, erupsi gunung berapi, dsbya.

Resiliency atau daya lenting adalah kemampuan untuk kembali lagi ke kondisi awal/semula setelah mengalami gangguan baik itu dengan cara bertahan ataupun beradaptasi dengan perubahan. Ada dua komponen dalam resiliency yaitu kemampuan untuk menyerap atau menahan dampak tekanan/stress dan kemampuan untuk pulih.

Badan hukum yang digunakan oleh MR adalah perkumpulan dengan keanggotaan awal diundang oleh Board of Trustee sebagai penggagas dari perkumpulan. Anggota dari perkumpulan ini adalah mewakili organisasi ataupun anggota individu baik dari kalangan perusahaan maupun organisasi masyarakat sipil.

Para pendiri MR mengundang para pihak, khususnya perusahaan yang berminat terlibat mengurangi risiko bencana di Indonesia bergabung dengan MR. Bersama dengan FAO, UNDP, IOM dan beberapa lembaga lainnya dengan dukungan Indonesia Disaster Fund, pada tanggal 5-6 April 2013 di Yogyakarta, MR akan mengadakan Seminar dan Lokakarya dengan tema "Konsorsium Multi Pihak Untuk Penanggulangan Risiko Bencana Akibat Erupsi Gunung Merapi". 


Penulis: Hermas Effendi Prabowo
Editor : Robert Adhi Ksp