Minggu, 23 November 2014

News / Regional

Tiga Hari Tak Pulang, Ternyata Main Judi "Online" dan Mencuri

Kamis, 14 Februari 2013 | 21:27 WIB

TASIKMALAYA, KOMPAS.com -- Andri (31), warga Kampung Riungkuntul, Tuguraja, Cihideung, Kota Tasikmalaya, mengaku nekat mencuri burung kicau untuk biaya persalinan istrinya yang tengah hamil tua. Istri Andri, Heni (25), bahkan mencarinya karena suaminya itu tak pulang ke rumah selama tiga hari.

Pada Kamis (14/2/2013), Heni mendapat kabar bahwa suaminya berada di Polsekta Cibeureum. Heni pun kaget dan langsung mendatangi kantor polisi. Dari keterangan polisi, Heni mengetahui jika suaminya nyaris tewas dikeroyok massa karena kepergok mencuri burung berkicau jenis Jalak Suren.

"Pantes selama ini dia jarang pulang. Dikasih uang untuk modal usaha tidak jelas. Mending alasan dia benar uang itu untuk biaya persalinan saya. Tapi dia bohong, uangnya digunakan judi online jenis Zinga Foker," kata Heni.

Pemilik burung kicau, Idi Junaedi (60), warga Cihaji Kidul, Purbaratu, Kota Tasikmalaya, menceritakan, saat itu dia sedang keluar rumah untuk membayar tagihan listrik. Di rumah hanya ada anak dan istrinya.

Astri (18) putri Idi, melihat seorang laki-laki mondar-mandir depan rumah mendekati burung Jalak Suren yang digantung di depan rumah. Astri mengintip dari jendela dan mengetahui sangkar berisi burung tersebut dibawa pelaku mengendarai sepeda motor. Astri pun keluar rumah dan berteriak maling.

Teriakan Astri didengar warga sekitar. Pelaku yang panik terjatuh dari motornya dan mendapatkan bogem mentah dari warga. Tak lama kemudian polisi yang dihubungi sesepuh kampung datang ke lokasi kejadian. Polisi kemudian mengamankan pelaku.

Kemarahan warga belum puas. Akhirnya sepeda Honda Scoopy yang dibawa pelaku dirusak.

Kepada polisi, Andri mengaku nekat mencuri burung karena tidak punya uang untuk biaya persalinan istrinya. "Saya benar-benar butuh uang. Motor yang dirusak bukan milik saya, itu motor rentalan," kata Andri.


Penulis: Kontributor Ciamis, Irwan Nugraha
Editor : Farid Assifa