Rabu, 1 Oktober 2014

News / Regional

Maulid Nabi

Endok-Endokan, Grebeg Maulud Ala Banyuwangi

Kamis, 24 Januari 2013 | 15:53 WIB

BANYUWANGI, KOMPAS.com- Banyuwangi punya tradisi khas menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setiap kali Maulud Nabi datang, warga Banyuwangi ramai-ramai membuat endog-endogan.

Endok-endokan adalah tradisi mengarak telur rebus yang dihiasi kertas warna-warni. Telur rebus biasanya ditaruh dalam kembangan yang dibuat dari kertas warna-warni yang diberi stik atau tusuk sate, dan ditancapkan ke badan pohon pisang.

Badan pohon pisang atau jodang yang biasanya ditancapi 33-99 kembangan. Jumlah ini menyesuaikan angka tasbih. Jodangan berisi telur pun kemudian diarak keliling desa.

Satu kepala keluarga bisa membuat lebih dari badan pisang dan menghabiskan berkilo-kilo telur. Tak heran jika telur menjadi barang langka setiap kali acara Mauludan. Setelah diarak dan dibawa ke Masjid masing-masing desa, telur-telur itu dibagikan ke masyarakat.

Tradisi endog-endogan mempunyai arti bahwa dari sebuah telurlah muncul suatu kebaikan. Dulu, telur yang biasa digunakan adalah telur bebek karena dianggap terbaik dan pantas untuk dibagikan, namun karena langka, kini warga juga menggunakan telur ayam.

Tradisi ini juga memberi rezeki para perajin kembangan. Neri (45) pedagang kembangan bisa menjual 200-an kembangan setiap hari. Dengan harga Rp 500-1000 per kembangan, ia bisa mengantongi keuntungan bersih 75.000 lebih per hari.


Penulis: Siwi Yunita Cahyaningrum
Editor : Marcus Suprihadi