Rabu, 23 Juli 2014

News / Travel

Mendaki Kawah Ijen pada Malam Hari

Jumat, 21 Desember 2012 | 14:44 WIB

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Dataran tinggi Ijen selalu memesona, sehingga banyak orang menuju ke sana untuk mendapatkan kepuasan hati. Menikmati pemandangan alamnya pada siang hari, tentu sudah biasa dilakukan, sehingga sesekali perlu dicoba untuk mendapatkan sensasi pemandangannya pada malam hari.

Pendakian malam hari dapat dimulai sekitar pukul 00.00. Jalur pendakian pada gunung setinggi 2.443 mdpl itu tidak berbeda dengan jalur yang digunakan untuk mendaki pada siang hari.

Titik awalnya juga melalui pos Paltuding atau pos terakhir dimana kendaraan harus parkir. Akses menuju Paltuding ini dapat ditempuh dari dua jalur, yaitu jalur utara melalui Bondowoso yang berjarak sekitar 63 km, dan jalur selatan melalui Banyuwangi yang lebih pendek jaraknya, yaitu sekitar 39 km, dan mempunyai akses jalan yang cukup bagus.

Paltuding merupakan kesempatan terakhir untuk melakukan pengecekan segala kebutuhan selama pendakian. Perlengkapan yang wajib dibawa adalah jaket tebal, sarung tangan, sepatu ket, serta penutup kepala karena puncak Ijen cukup dingin.

Masker juga menjadi perlengkapan penting karena bau belerang akan sangat menyengat. Satu lagi yang wajib dibawa adalah lampu senter. Saat di Paltuding itupula merupakan kesempatan melengkapi bekal ransum. Makanan dan minuman ringan dapat dibeli di warung yang ada di areal pos yang terintegral antara penginapan, fasilitas kamar mandi umum, serta tempat berkumpulnya para pemandu itu.

Membekali diri dengan jas hujan akan cukup membantu, terutama jika mendaki diluar musim kemarau seperti saat ini. Pendakian dari Paltuding menuju kawah Ijen akan menempuh jarak sekitar 3,3 km atau setara 2 jam dengan ritme jalan kaki yang santai.

Pada satu jam pertama pendakian, jalur tersebut mempunyai kemiringan yang cukup menanjak sehingga harus pandai menghemat tenaga. Membawa tongkat akan lumayan membantu pembatasan keluarnya energi. Setelah itu jalur akan cukup landai hingga menuju puncak kawahnya.

Medan awal pendakian berupa tanah yang bercampur pasir kasar. Pada pertengahan jalur, akan mulai menemukan medan bebatuan, dan areal kawah adalah jalur berbatu. Di sepanjang jalur sesekali akan berpapasan dengan para penambang belerang, sebab jalur tersebut sekaligus merupakan jalur hilir mudik para penambang yang membawa belerang dari dasar kawah Ijen kek kaki gunung.

Pendakian pada malam hari tentu akan berbeda. Suasana malam membuat situasi tidak dapat terpantau sempurna. Pandangan mata hanya sebatas lampu senter menyorot, atau bantuan sinar rembulan jika purnama. Pendakian malam menuntut nyali dan kewaspadaan ekstra, terutama saat melintasi rimbunnya pepohonan atau jalur bebatuan.

Sensasi akan mulai terasa saat mencapai bibir kawah. Jika cuaca bersahabat, pendaki akan berkesempatan melihat pancaran warna biru atau yang biasa disebut blue flame yang terletak di dasar kawah. Blue flame yang berasal dari pembakaran belerang ini dapat dilihat dari dekat dengan cara turun ke kawah.

Tidak ada jalur resmi untuk turun menuju dasar kawah. Jalur yang terdiri dari bebatuan itu sangat tidak teratur dan hanya mengikuti lintasan yang telah dibuat oleh para penambang, serta akan berubah-ubah sesuai alur pertambangannya. Situasi yang gelap dan tingkat kemiringan jalur yang tinggi akan memacu adrenalin.

Berada dalam dasar kawah disarankan tidak berlama-lama dan harus cermat menghitung arah angin. Sebab, angin akan mempengaruhi konsentrasi kepulan asap belerang. Diusahakan pula sebelum terang, segera naik kembali ke atas agar tidak terjebak asap dan kabut yang juga naik ke permukaan.

Selain itu juga merupakan waktunya menikmati matahari terbit. Setelah matahari terbit, sensasi akan berbeda. Pemandangan sekitar yang sebelumnya tidak nampak pada malam hari, akan terlihat sejauh mata memandang.

Sedikit perasaan kaget mungkin akan muncul ketika menyadari bahwa malam harinya telah mendaki melewati lembah dan tebing yang curam. Hijaunya pepohonan dan lekuk jajaran gunung di kawasan Ijen yang terlihat jelas akan menambah lengkapnya sensasi pendakian.


Penulis: Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Editor : I Made Asdhiana