Jumat, 29 Agustus 2014

News / Regional

Cerita Pelacuran dari Pelabuhan Soekarno-Hatta

Minggu, 25 November 2012 | 17:37 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Pada siang hari, Jalan Nusantara, Makassar selalu padat dengan aktivitas penumpang dan buruh, utamanya di kawasan Pelabuhan Internasional Soekarno-Hatta. Namun pada malam hari, aktivitas tersebut berubah menjadi kerlap-kerlip lampu yang berasal dari puluhan tempat hiburan malam seperti bar, karaoke, dan pub.

Bersamaan dengan itu, di sepanjang satu kilometer ruas Jalan Nusantara, berjajar para wanita pekerja seks komersial (PSK). Setidaknya pemandangan itu mulai terlihat mulai pukul 20.00 hingga sekitar pukul 02.00 dinihari.

Seolah kontras dengan jajaran para "kupu-kupu" malam, kendaraan roda dua maupun roda empat pun berjejer di tepi Jalan Nusantara. Memang, kawasan ini sudah lama dikenal sebagai pusat wanita penjaja tubuh. Mereka umumnya nongkrong di warung-warung kaki lima yang berjajar di sana.

Berdasarkan penelusuran di "lokalisasi" itu, tarif sekali kencan para wanita ini berkisar antara Rp 175 ribu hingga Rp 250 ribu. Tarif ini pun sudah termasuk kamar kecil berkasur busa, lengkap dengan pendingin ruangan dan kamar mandi. Namun, hanya kain gorden yang menutupi pintu kamar-kamar itu.

Cara "promosi" PSK di warung-warung remang itu kontras dengan mereka yang kerap kongkow di tempat hiburan malam. Para PSK kelas hiburan malam ini memajang diri di sebuah tempat khusus. Mereka duduk di sofa dengan memerkan lekukan tubuh yang hanya dibalut atasan kaos ketat dan seksi serta rok mini. Jadi, para pria hidung belang tinggal melihat-lihat untuk memilih PSK yang akan diajak kencan.

"Semalam, biasanya saya melayani sampai 7 pria hidung belang. Ya, lumayan, setelah semalaman memuaskan pelanggan, badan terasa pegal-pegal. Terkadang juga, pria yang saya puaskan biasa memberi tips. Jadi, setelah menguras tenaga malam hari, siang harinya tidur hingga sore, dan siap-siap kembali bekerja," aku salah seorang PSK bernama samaran Ayu di salah satu tempat hiburan malam di Jalan Nusantara, Selasa (06/11/2012) malam.

Saat ditanya apakah tidak takut tertular penyakit HIV/AIDS, Ayu mengaku tidak. Sebab, manajemen tempatnya bekerja, sering memeriksakan kesehatan seluruh karyawannya seminggu sekali. Dokter biasa datang memeriksa kesehatannya di mess tempatnya beristirahat pada siang hari. "Jadi, kita sering diperiksa oleh dokter. Biasa juga disuntik untuk kekebalan dan suntikan antihamil," tambahnya.

Sementara rekan seprofesi Ayu, Siska (nama samaran) mengaku sering di-booking keluar. Untuk booking, tarifnya berbeda. Jika booking di jam kerja dikenakan tarif oleh managemen tempatnya bekerja, sebesar Rp 500 ribu ke atas. Sedangkan di luar jam kerja, mulai pukul 02.00 sampai pagi hari, dibanderol Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Jadi tarifnya berbeda-beda, mas. Itupun di luar tanggungan hotel, makan dan lainnya. Belum lagi, biasa ada tips-tips yang diberikan oleh pelanggan," ungkap wanita asal Manado ini.

Sementara itu, menurut informasi yang diperoleh, PSK dari tempa hiburan di hotel-hotel, tarif per sekali kencan bisa mencapai Rp 750 ribu hingga jutaan rupiah semalam.

Di lokasisasi prostitusi sepanjang Jalan Nusantara, selain tempat hiburan malam, juga terdapat toko kelontongan, travel dan tempat ibadah. Karenanya, sempat Pemerintah Kota Makassar mewacanakan akan memindahkan lokalisasi ini ke salah satu pulau di sekitar Makassar. Hanya saja, wacana yang dilontarkan beberapa tahun lalu belum terlaksana hingga kini.

***

Baca Juga:

Simak pula topik sebelumnya:


Penulis: Kontributor Makassar, Hendra Cipto
Editor : Farid Assifa