Jumat, 1 Agustus 2014

News / Regional

SEMARANG

Dua Korban Bus Raharja Itu Tewas Berpelukan...

Senin, 5 November 2012 | 14:12 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Fatika Fajar Wiyati (18) dan Rea Aulia (19), mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), tidak menyangka dua sahabatnya menjadi korban kecelakaan. Mereka berempat merupakan sahabat yang saat kejadian bersama-sama menjadi delegasi Antibiotic8 Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia (FULDFK) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Fatika dan Rea masih tampak terpukul melihat peti mati dua sahabatnya, Novilia Lutfiatul Khoriyah (19), warga Bukitjaya, Palelawan, Riau; dan Esti Ilma Zakiya (18), Jalan Jendana Nomor 19 A, Bekasi, saat disemayamkan di Gedung Serba Guna FK Undip, Senin (5/11/2012).

Keduanya pun harus digandeng oleh sejumlah rekannya saat akan menyaksikan dua sahabatnya untuk kali terakhir. Rea menceritakan, acara yang diikutinya dilaksanakan pada Jumat (2/11/2012) hingga Minggu (4/11/2012). Pada hari terakhir tersebut, mereka melaksanakan acara citytour ke sejumlah tempat wisata di Purwokerto bersama seluruh rombongan dari berbagai universitas.

Berbagai kendala memang sudah terjadi sejak berangkat. Saat menuju Baturaden, bus pertama yang mereka naiki mogok, kemudian digantikan dengan mobil milik panitia. Namun saat pulang, mereka dijemput dengan bus naas tersebut, yakni PO Raharja, dengan nomor polisi AB 2586 AC.

"Ketika itu kami duduknya sebelahan di baris keempat dari depan, tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Novi dan Esti justru pindah ke depan dan persis duduk di belakang sopir," urainya saat menceritakan detik-detik terakhir kecelakaan tersebut. Ia pun tampak tak kuasa menahan air mata, ketika harus menceritakan kematian sahabatnya.

Bus yang mereka tumpangi memang terasa tidak enak, dan sempat merasakan agak tersendat saat keluar dari Baturaden. Sekitar 15 menit keluar dari wilayah Baturaden itulah, sopir tidak bisa mengendalikan laju bus karena diduga rem blong. Saat itu, penumpang panik dan meneriakkan 'Allahu Akbar'.

Kernet pun sudah lari ke belakang. Namun, Esti dan Novi justru berpelukan di kursi depan tempat duduk mereka. "Tadinya kami sudah berteriak meminta agar mereka ke belakang, tapi ternyata tidak dengar. Saya juga coba menelepon tapi nggak diangkat, mereka malah pelukan," ungkap Rea sembari menunjukkan bukti telepon pukul 16.16 WIB, sesaat sebelum bus berhenti dan menabrak pohon palem di tepi jalan.

Fatika mengatakan, kejadian itu cukup lama, yakni sekitar 5 menit sebelum akhirnya bus berhenti. "Saya sempat melihat pipi dan jilbab coklat Novi," kenangnya.

Setelah bus berhenti, ia sempat mendengar seseorang menyebutkan ada korban meninggal dari Undip. Saat keluar bus, ia baru tahu korban tersebut adalah kedua sahabatnya yang kemudian sudah dibawa ke rumah sakit. Mereka pun kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Ia menceritakan, selama tiga hari di acara itu, Esti dan Novi menjadi sangat akrab. Padahal, biasanya Novi lebih dekat dengan Rea, sementara Esti lebih dekat dengan Fatika. Meski sudah diacak, Esti dan Novi juga mendapat kamar yang sama. Ke mana-mana mereka juga berdua dan selalu berpegangan tangan.

Novi yang jarang mengunggah fotonya ke situs jejaring sosial Facebook ketika itu juga sudah mengunggah foto-foto bersama saat acara tersebut, dan diberi judul "Saudara Dunia Akhirat".

Ia mengatakan, sejak beberapa hari terakhir, sahabatnya itu memang banyak menceritakan tentang kematian. Bahkan di blog milik Novi, tulisan terakhirnya tanggal 1 November juga berkisah tentang mayat-mayat yang digunakan para mahasiswa FK sebagai sarana untuk mempelajari anatomi tubuh manusia.

Seperti diberitakan, sebuah bus PO Raharja yang membawa rombongan mahasiswa tersebut menabrak mobil dan dua sepeda motor di Jalan Raya Rempoah, Baturaden, Banyumas, Minggu (4/11/2012) sore. Dari kecelakaan tersebut, 6 orang tewas, yakni sopir bus, dua penumpang bus, dan pengendara sepeda motor yang ditabrak. Sementara itu, belasan orang mengalami luka-luka. 


Penulis: Kontributor Semarang, Puji Utami
Editor : Glori K. Wadrianto