Jumat, 19 Desember 2014

News / Regional

Kapal Tenggelam

Evaluasi dan Antisipasi Agar Tidak Terulang

Kamis, 20 September 2012 | 17:02 WIB

KUTAI BARAT, KOMPAS.com -- Tenggelamnya KM Surya Indah di Sungai Mahakam, Muara Pahau, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang merenggut 28 jiwa, adalah pelajaran berharga agar tidak terulang lagi. Evaluasi menyeluruh dan antisipasi harus segera dilakukan.

"Pengecekan kapal-kapal transportasi harus dilakukan lebih cermat, karena nyawa adalah taruhannya," kata Kepala Bagian Humas Pemkab Kutai Barat, Toni Imang, Kamis (20/9/2012).

Kapal buatan tahun 2001 dan berbobot 166,6 gross ton (GT) tersebut, tenggelam pada Kamis malam pekan lalu. Sebanyak 83 penumpang ditemukan selamat, 28 lainnya ditemukan meninggal. Adapun pencarian korban telah dihentikan.

Kapal tenggelam setelah mengalami kebocoran pada mesin. Nahkoda kapal, ASP, sudah ditetapkan sebagai tersangka karena sejak awal berangkat sudah mengetahui ada kebocoran pada mesin. Tetapi kapal tetap dijalankan.

Kepala Bidang Humas Polda Kaltim Komisaris Besar Antonius Wisnu Sutirta mempersoalkan data manifes penumpang kapal yang tidak diketahu persis. Ini dimungkinkan karena tidak semua penumpang naik dicatat dan diketahui identitasnya.

Tentang itu, Toni memastikan akan menjadi catatan. "Keakuratan jumlah penumpang dan identitasnya jelas penting, karena itu adalah informasi yang membantu," kata Wisnu.

Setiap hari, jalur Sungai Mahakam dari Samarinda-Melak (Kubar)-Long Bagun (Kubar), yang dilintasi KM Surya Indah ini, cukup ramai. "Jalur tersebut dilintasi sejumlah kapal, baik kapal angkutan orang maupun barang. Transportasi air menjadi pilihan karena jalan darat jelek," katanya.

Sebenarnya jalan darat pernah dalam kondisi lumayan pada tahun 2004-2006. Kala itu, transportasi air malah tidak ramai. Namun, karena terus-menerus dilintasi kendaraan berat, jalan akhirnya rusak. Transportasi air pun kembali menjadi pilihan. Adapun jarak Samarinda-Melak 325 km, sedangkan jika sampai ke Long Bagun, jaraknya 523 km.

 

 


Penulis: Lukas Adi Prasetya
Editor : Nasru Alam Aziz