Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Masalah Tambang Emas di Pulau Buru Segera Dibahas

Senin, 17 September 2012 | 23:33 WIB

AMBON,KOMPAS.com - DPRD Provinsi Maluku dalam waktu dekat ini akan menggelar rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku guna membahas sejumlah masalah di kawasan pertambangan Gunung Botak, Desa Wamsait, Pulau Buru, Maluku. Rencananya rapat koordinasi tersebut juga akan dihadiri Bupati Buru, Ramli Umasugi, dan pimpinan DPRD setempat.

Ketua DPRD Provinsi Maluku, Fatani Sohilauw kepada wartawan di Kantor DPRD Maluku, Senin (17/9/2012) mengatakan, rapat koordinasi dilakukan untuk merespon berbagai persoalan yang terus terjadi di kawasan tambang Gunung Botak akhir-akhir ini.

"Dalam waktu dekat, mungkin minggu ini kita bersama Pemprov Maluku akan rapat koordinasi, saya sudah sampaikan ke ibu Sekda, agar Bupati Buru dan DPRD setempat juga hadir dalam rapat itu," kata Sohilauw.

Ia mengungkapkan, rapat koordinasi dilakukan untuk membahas dan mengambil sejumlah langkah tegas terhadap berbagai masalah yang terjadi di kawasan Gunung Botak. Menurutnya, persoalan di kawasan tersebut tidak semata masalah emas, namun juga masalah pencemaran lingkungan, masalah kesehatan dan yang terpenting adalah masalah keamanan dan ketertiban umum.

"Masalahnya di sana sangat kompleks, ada masalah keamanan, masalah kesehatan, lingkungan dan sebagainya, makanya harus ada langkah tegas," jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Maluku, Bram Tomasoa, meminta agar penambang liar di Pulau Buru segera ditertibkan pemda setempat. Jika tidak, akan memicu terjadinya kerusakan lingkungan yang semakin parah. Ia bahkan mengusulkan kepada Pemda Buru agar segera memulangkan puluhan ribu pendulang emas ke daerahnya masing-masing.

"Harus dipulangkan, bila perlu dilakukan operasi justicia di sana. Mestinya Pemda setempat bisa melihat masalah ini," tegasnya.

Ia mengakui, dampak yang ditimbulkan dari pertambangan ilegal di Pulau Buru sangat besar. Ia mencontohkan penggunaan air raksa secara berlebihan di sana sangat rentan terhadap pencemaran air, tumbuh-tumbuhan dan kesehatan warga setempat.

"Belum lagi masalah penularan penyakit, ini kan tidak boleh dibiarkan terus menerus," ujarnya.


Penulis: Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo