Rabu, 30 Juli 2014

News / Regional

Perebutan Kekuasaan Keraton Surakarta Berakhir

Minggu, 20 Mei 2012 | 15:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perebutan kekuasaan di Keraton Surakarta Hadiningrat antara Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIII dan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan akhirnya berakhir.

Kedua putra Sultan Paku Buwono XII tersebut menyatakan rekonsiliasi dan mewujudkan kepemimpinan dwitunggal.

Dalam acara tasyukuran terwujudnya kepemimpinan dwitunggal di kediaman Mooryati Soedibyo, Jalan Mangun Sarkoro No 69, Menteng, Jakarta Pusat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan mengungkapkan, rekonsiliasi tersebut merupakan impian dalam terwujudnya manajemen, pelestarian, dan pembangunan Keraton Surakarta Hadiningrat.

"Demi eksistensi dan kejayaan Keraton Surakarta, dengan keikhlasan kebesaran jiwa, saya bersedia melepas gelar Paku Buwono XIII dan menerima kedudukan sebagai Mahapatih dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan," ujarnya di depan seluruh keluarga keraton.

Dalam acara syukuran tersebut, hadir pula Wali Kota Solo Joko Widodo, anggota DPD AM Fatwa, Mantan Mendiknas Wardiman Djojonegoro, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Agung melanjutkan, terwujudnya dwitunggal kepemimpinan Keraton Surakarta sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu mempersatukan kembali keluarga keraton, termasuk abdi dalem, melestarikan nilai-nilai luhur budaya keraton, termasuk renovasi bangunan dan perlindungan peninggian leluhur lainnya sesuai undang-undang cagar budaya.

"Meningkatkan peran sosial budaya Keraton Surakarta Hadiningrat dalam pembentukan bangsa dan negara dalam kerangka NKRI," ujarnya melanjutkan.

Perlu diketahui, proses rekonsiliasi yang diselenggarakan di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan, 16 Mei 2012, turut disaksikan oleh Wali Kota Solo Joko Widodo.

Konflik internal Keraton Surakarta terjadi sejak Paku Buwono XII meninggal pada tahun 2004, tanpa meninggalkan permaisuri dan putra mahkota.

Sebagian pihak mendukung pengangkatan putra tertua, KGPH Hangabehi, sebagai pengganti, sedangkan sebagian besar lainnya mendukung putra kelima, KGPH Tedjowulan, sebagai pengganti.

Akhirnya, selama lebih dari tujuh tahun, terdapat dua raja di salah satu kerajaan penerus dinasti Mataram tersebut.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Tri Wahono