Jumat, 28 November 2014

News / Regional

Inilah Awal Mula Berdirinya "Kampung Inggris"

Minggu, 13 Mei 2012 | 17:01 WIB

KEDIRI, KOMPAS.com - Di Desa Pelem dan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur saat ini tersebar ratusan lembaga kursus bahasa asing. Di antaranya yang paling dominan adalah lembaga kursus bahasa inggris. Lalu, bagaimana awal mula terbentuknya komplek itu?

Dari penelusuran yang dilakukan Kompas.com, pemicu awal terbentuknya komunitas tersebut ternyata amat sederhana dan merupakan hasil kerja keras yang dilakukan oleh satu orang saja, yaitu seseorang yang bernama Kalend Osen.

Kalend Osen yang ditemui di rumahnya, Jalan Anyelir, Singgahan, Pelem, Pare, Rabu (9/5/2012), menuturkan dengan singkat perjalanan kariernya hingga tercipta maha karya yang spektakuler ini.

Pria kelahiran 4 Pebruari 1945 ini tampak sederhana namun begitu bersahaja. Bermula pada tahun 1976 silam, Kalend Osen adalah seorang santri asal Kutai Kartanegara yang tengah menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menginjak kelas lima, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tidak kuat menanggung biaya pendidikan. Bahkan, keinginannya pulang kembali ke kampungnya gagal karena tiada biaya.

Dalam situasinya yang sulit itu seorang temannya memberitahukan adanya seorang ustaz yang bernama KH Ahmad Yazid di Pare yang menguasai delapan bahasa asing. Kalend muda kemudian berniat berguru dengan harapan minimal dapat menguasai satu atau dua bahasa asing darinya. Ia lalu mulai tinggal dan belajar di Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, milik Ustaz Yazid.

Dalam sebuah kesempatan, datang dua orang tamu mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Kedatangan dua mahasiswa itu untuk belajar bahasa Inggris kepada Ustaz Yazid sebagai persiapannya menghadapi ujian negara yang akan dihelat dua pekan lagi di kampusnya.

Kebetulan saat itu Ustaz Yazid tengah bepergian ke Majalengka dalam suatu urusan sehingga kedua mahasiswa itu hanya ditemui oleh ibu Nyai Ustaz Yazid. Entah dengan alasan apa, oleh Nyai Ustaz Yazid, kedua mahasiswa itu diarahkan untuk belajar kepada Kalend yang baru saja nyantri.

"Waktu itu saya sedang menyapu masjid dan dua mahasiwa itu menghampiri saya," kenang Kalend mengingat masa lalunya.

Dua mahasiswa itu kemudian menyodorkan beberapa lembaran kertas yang berisi 350 soal berbahasa inggris. Setengah ingin tahu, Kalend memeriksa soal-soal itu dan kemudian meyakini dapat mengerjakannya lebih dari 60 persen. Kalend menyanggupi permintaan itu dan mereka akhirnya terlibat proses belajar mengajar yang dilakukan di serambi masjid area pesantren. Pembelajarannya cukup singkat, dilakukan secara intensif selama lima hari saja.

"Tak disangka, sebulan kemudian mereka (dua mahasiswa) kembali dan mengabarkan telah lulus ujian. Betapa bahagianya saya waktu itu, " kata kakek yang saat ditemui tengah mengenakan sarung, atasan hem biru kotak-kotak serta peci hitam ini.

Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Surabaya dan banyak dari mereka akhirnya mengikuti jejak seniornya dengan belajar kepada Kalend. Promosi dari mulut ke mulut pun akhirnya menjadi awal terbentuknya kelas pertama.

Sejak saat itu, pada 15 Juni 1977 di desa setempat, Kalend mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) dengan enam siswa pada kelas perdana. Para siswa tersebut terus dibina dan dididik tidak hanya kemampuan bahasa inggris, namun juga ilmu agama serta kecakapan akhlak.

Selama hampir sepuluh tahun Kalend berjuang sendirian untuk menghidupkan lembaga kursusnya itu dan dengan segala rintangannya dia berhasil melakukannya dengan baik. Pada tahun 1990-an, banyak alumninya yang didorong untuk membuat lembaga kursus untuk menampung pelajar yang tidak mendapat kuota akibat membeludaknya pelajar di BEC.

"Saya mempunyai prinsip, jikalau kita berkarya, selain dapat dinikmati sendiri, karya itu juga tidak merugikan orang lain," tutur kakek rendah hati ini.

Lambat laun lembaga kursusnya semakin bertambah jumlahnya. Namun demikian kesemuanya mampu berjalan seirama tanpa adanya kompetisi negatif. Para pendiri lembaga kursus itu rata-rata mempunyai ikatan sejarah yang sama, yaitu sama-sama dari satu guru.

Eksistensi BEC hingga kini juga tetap terjaga. Bahkan di tahun 2011 lalu telah genap meluluskan alumni sebanyak 18.000 siswa dari berbagai penjuru nusantara. Dalam meluluskan siswa, BEC dikenal sangat ketat.

Nur Akhlis, salah satu mantan murid Kalend yang sukses membuka lembaga kursus sendiri dan dinamainya Effective English Conversation Course (EECC) di Jalan Falamboyan, Desa Tulungrejo juga membagikan ceritanya.

"Saya dulunya murid dari Pak Kalend, dan pernah diamanatkan untuk memegang kelas. Kami memang didorong untuk mandiri dan berkarya sehingga Alhamdulillah saya sekarang menjadi seperti ini," kata Nur Akhlis.

Adanya dorongan itu, guru yang juga pengurus forum pengelola kursus ini menambahkan, membuat perkembangan kampung menjadi dinamis dan saat ini ada lebih dari 114 lembaga kursus. "Mulai sekitar tahun 2000-an, para investor dari luar kota juga mulai melirik potensi yang ada dengan turut mendirikan lembaga kursus," kata Nur Akhlis.


Penulis: M Agus Fauzul Hakim
Editor : Hertanto Soebijoto