Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Pertanian di Pulau Samosir Perlu "Treatment" Khusus

Selasa, 20 Maret 2012 | 09:34 WIB

SAMOSIR, KOMPAS.com - Potensi lahan pertanian di Pulau Samosir yang bisa kembangkan masih besar, yakni 10.000 hektar. Namun, pengelolaan lahan pertanian di Pulau Samosir harus dengan pendekatan (treatment) khusus, berbeda dengan di Pulau Jawa.

Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Benny Pasaribu, Selasa (20/3) di Samosir, pengembangan pertanian di Pulau Samosir masih terbuka. Lahan pertanian masih bisa ditingkatan luasannya 5.000 hektar sampai 10.000 hektar.

Namun, harus dipahami bahwa lahan di Pulau Samosir berbatu, sebagai dampak letusan gunung berapi. Tetapi dataran-dataran di atas bukit bisa dimanfaatkan. HKTI membuktikan, bila pengelolaan lahan dilakukan dengan baik, produktivitas tanaman bisa ditingkatkan.

Seperti saat HKTI memanen jagung hibrida varietas pertiwi 2 dan pertiwi 3 di Desa Tolping, Samosir pada 19 Maret lalu. Dari yang semula produktivitas tanaman jagung konvensional di sana 5 ton per hektar, bisa ditingkatkan menjadi 8 ton per hektar jagung pipilan kering.

"Kuncinya pada pengelolaan lahan," kata Benny, yang juga doktor bidang kebijakan industrial dan perdagangan dari Ottawa, Kanada.

Di Pulau Samosir, lahan berbatu. Tingkat keasaman tanah (Ph) juga tinggi, yakni 4,5 sampai 5,5. Karena itu perlu penanganan khusus untuk meningkatkan kesuburan lahan, dengan memberikan kapur pertanian dan dolomit. Setelah Ph mencapai sekitar 7, baru tanaman bisa tumbuh. Karena lahan kurang subur, budidaya tanaman pangan maupun hortikultura di Samosir harus dilakukan dengan mengintroduksi pupuk organik.

"Kalau pupuk kimia tambah kering," katanya. Dengan memasukkan pupuk organik, akan mendorong lahan pertanian menjadi lebih subur. Karena itu, sangat cocok kalau Pulau Samosir untuk pengembangan tanaman organik.

"Tanaman spesifik harus dikembangkan di sini," katanya. Tantangan utama memang kemudian pada sistem irigasi. pengembangan jaringan irigasi di Samosir tidak bisa menggunakan pendekatan konvensional, tetapi dengan teknik khusus seperti irigasi model semprot atau sprinkle. Tantangannya tinggal bagaimana menaikkan air danau ke dataran di atas bukit.

"Itu tidak susah karena teknologi ada," katanya. Sinaga, petani dari Tolping berharap, pencetakan lahan baru di Samosir terus dilakukan.

Dengan penanganan khusus, produktivitas tanaman tinggi, sehingga pendapatan petani bisa naik. Para petani berharap, pemerintah lebih peduli, dan mau berusaha lebih keras untuk membantu masyarakat Samosir. 


Penulis: Hermas Effendi Prabowo
Editor : Robert Adhi Ksp